Wahana Silaturahmi, curhat, belajar, tukar informasi, lowongan pekerjaan, peluang bisnis, dll
Senin, 08 Desember 2008
Hutan Rusak, Waduk Terkena Dampak
Minggu, 30 November 2008 | 15:54 WIB
Laporan wartawan Kompas Imam Prihadiyoko
CEPU, MINGGU - Menteri Kehutanan MS Kaban mengingatkan kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia memang memprihatinkan. Di Pulau Jawa, luas daratan dibanding hutan tinggal 19 persen saja.
"Padahal, idealnya luas minimal luas kawasan hutan itu 30 persen. Angka 19 persen ini, kalau tidak digenjot dengan usaha menanam, maka kekeringan dan kebanjiranlah yang didapat," ujarnya dihadapan massa pengajian Majelis Tafsir Al Quran di Cepu, Minggu (30/11).
"Kerusakan waduk, bukan hanya di Gajah Mungkur yang mengalami pendangkalan sebagai akibat menumpuknya lumpur. Bayangkan, waduk yang harusnya bertahan 100 tahun, sekarang sudah ada pendangkalan yang cukup parah," ujarnya.
Pendangkalan ini, menurut Kaban, juga disebabkan oleh area tangkapan airnya hilang. Hilangnya karena penjarahan, dan tidak ada penanaman kembali. "Itu sebabnya, saya sering mengajak berbagai pihak untuk menanam, dan terus menanam agar hutan kita banyak lagi," ujarnya.
Imam Prihadiyoko
Minggu, 09 November 2008
Plastik Ramah Lingkungan dari Kelapa Sawit
Pengepul sampah plastik di Jalan Citarum, Cideng, Jakarta Pusat, Harto, memilah botol plastik yang dibelinya seharga Rp 1.000 per kilogram dari pemulung, Rabu (27/2). Sampah plastik tersebut kemudian dijual ke pabrik pengolah plastik untuk didaur ulang. Mereka secara tidak langsung ikut membantu pemerintah dalam menangani masalah sampah.
Kompas, Jumat, 22 Agustus 2008 | 20:33 WIB
MEDAN, JUMAT - Peneliti Universitas Sumatera Utara, Basuki Wirjosentono, mengenalkan plastik ramah berbahan hasil samping minyak sawit mentah. Plastik yang selama ini beredar di masyarkat masih memakai zat kimia yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia. Hasil samping sawit terbukti aman dari gangguan itu. "Hasil samping ini sebagai pelunak plastik. Bahannya banyak terdapat di sekitar kita. Pemanfaatan hasil samping minyak sawit ini sekaligus bisa meningkatkan nilai jualnya," kata Basuki Wirjosentono di Kampus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Jumat (22/8). Gliserol menjadi bahan pengganti dioktil ftalat atau dalam istilah kimia dikenal dengan DOP. Bahan ini bagus bereaksi dan murah harganya. Sayangnnya, zat kimia ini bersifat racun penyebab kanker pada manusia. DOP dan glicerol sama-sama bisa menjadi bahan pelunak plastik. Namun gliserol lebih aman bagi kesehatan dan tidak mengandung racun. Dalam penelitiannya, Basuki mengubah gliserol menjadi poli gliserol agar zat ini menjadi lebih kental. Selanjutnya dia mengubahnya lagi menjadi poligliserol asetat agar senyawa ini bisa bercampur baik dengan plastik. Dia mulai melakukan penelitian ini lima tahun lalu. Sementara ini hasil penelitiannya belum dimanfaatkan secara komersial. Di sejumlah forum internasional, Basuki sudah mengenalkannya. Produksi alat pelunak plastik ini masih dalam skala laboratorium dalam jumlah liter.
Sabtu, 08 November 2008
Sel Surya Buatan Dalam Negeri Justru Dipesan Luar Negeri
Pemesanan sebesar 10 megawatt (MW) datang dari Spanyol dan harus bisa dipenuhi Mei 2009. Sementara itu, pemesanan dari konsumen dalam negeri sama sekali belum ada, padahal kapasitas produksinya 90 MW per tahun.
Wilson ketika dihubungi Kompas dari Jakarta, Kamis (9/10), mengatakan, lokasi industri sel surya yang masih tahap persiapan itu berada di Cikarang, Jawa Barat, dengan nama perusahaan Nano-PV. Jenis sel surya yang akan diproduksi berupa sel surya generasi kedua, yaitu sel surya thin film (lapisan tipis) dari hasil temuan Wilson yang kini sudah dipatenkan.
"Teknologi yang saya temukan itu nanti akan digabungkan dengan teknologi dari Amerika Serikat," kata Wilson.
Termurah di dunia
Harga komersial sel surya yang diharapkan, menurut Wilson, bisa mencapai 0,8-0,9 dollar AS per watt. "Harga demikian akan menjadikan sel surya Nano-PV menjadi yang termurah di dunia," kata Wilson.
Beberapa waktu sebelumnya, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan, industri sel surya memiliki produk akhir yang ramah lingkungan. Akan tetapi, pada proses pembuatannya harus dicermati karena tergolong tidak ramah lingkungan.
Menanggapi persoalan ini, Wilson mengatakan, pembuatan sel surya pada generasi pertama diakui memang tidak ramah lingkungan. Penggunaan logam berat merkuri masih dominan.
"Namun, tidak demikian halnya untuk produksi sel surya generasi kedua yang tidak mengandalkan penggunaan logam berat merkuri," kata Wilson menjelaskan.
Menurut Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi, kebutuhan dalam negeri terhadap sel surya sebetulnya cukup tinggi. Pada tahun 2025, pemerintah menargetkan pemanfaatan energi yang berasal dari sel surya mencapai 800 megawatt. Padahal, kapasitas terpasang saat ini baru mencapai 10 megawatt.
Dengan target yang cukup ambisius tersebut, menurut Arya, semestinya setiap tahun pemerintah menargetkan penginstalan sel surya dengan kapasitas 40 megawatt. Namun, target ini belum tercapai. (NAW)
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/10/17011478/sel.surya.buatan.dalam.negeri.justru.dipesan.luar.negeri#
Biodiesel dari Jelantah
Menurut Kepala Laboratorium Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi (BRSDT) Ir. Imam Paryanto, bahkan minyak jelantah yang sudah bercampur bahan-bahan lain seperti tanah maupun air sekali pun masih bisa diolah.
"Kami juga mempunyai filter yang siap menyaring kotoran, dari yang besar sampai yang terkecil," kata Imam di sela-sela acara sosialisasi pemanfaatan minyak goreng bekas, Kamis (27/11). Acara sosialisasi yang diselenggarakan di kantor BRSDT di kawasan Serpong, Tangerang.
Dijelaskan Imam, bila dibuang sembarangan, minyak goreng bekas dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan, karena akan mengakibatkan ikan dan habitat air lainnya mati. Sedangkan kalau jelantah diknsumsi manusia bisa berisiko kanker maupun stroke.
Pada tahap riset, BRSDT melibatkan siswa-siswa SD di Serpong, Cisauk, Pamulang, Setu, dan Pondok Aren. Para siswa itu diminta mengumpulkan minyak goreng bekasi di rumahnya. Hasilnya, selama bulan April sampai November ini terkumpul 2.075 liter jelantah.
BRSDT membeli jelantah itu dengan harga Rp 3.000 per liter jika petugas BRSDT harus mengambil ke sekolah. Sedangkan jika jelantah diantar langsung ke BRSDT, harganya Rp 4.000 per liter.
Kepada para peserta sosialisasi, Imam berharap mereka bisa menerapkan teknologi pengolahan jelantah menjadi biodiesel yang teknologinya sangat sederhana itu. Atau, mereka bisa mengumpulkan jelantah dari masyarakat untuk dijual kepada BRSDT sebagai bahan baku.
Teknologi sederhana
Selanjutnya, BRSDT mengolah jelantah itu menjadi biodiesel dengan mesin yang sangat sederhana.
Sebelum diolah, jelantah dimasukkan dulu ke dalam filter atau tempat penyaringan. "Ada dua filter yang kami gunakan. Satu berupa filter biasa, satu lagi filter press yang mampu menyaring kotoran berukuran kecil sekali," ujar Imam.
Setelah melewati proses penyaringan, minyak lantas dipompa menuju tangki penyimpanan. Baru setelah mengendap beberapa saat, minyak dialirkan menuju reaktor untuk direaksikan dengan metanol dan katalis (NaOH). "Waktu pencampuran kurang lebih 30 menit," lanjutnya.
Sebelum menjadi biodiesel, bahan dari minyak goreng bekas dicuci dengan air panas bersuhu minimal 70 derajat celcius sebanyak dua kali. "Hal itu untuk melarutkan sisa metanol yang tidak bereaksi dalam proses pencampuran. Setelah itu, biodiesel dikeringkan dalam vacum selama setengah jam, sebelum dapat digunakan," jelas Imam.
Selesai pengeringan, baru dapat dihasilkan produk biodesel. Dengan komposisi 90 persen biodiesel, 10 persen sisanya berupa gliserol. Dimana gliserol diolah lagi oleh BRDST menjadi sabun cair.
C11-08
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/27/1917405/biodiesel.dari.jelantah
Selasa, 28 Oktober 2008
Limbah Wings Cemari 18 Ha Sawah
SURABAYA, SENIN - Berdasarkan uji laboratorium, limbah industri PT Wings
Surya dinyatakan melampaui baku mutu buangan limbah cair. Limbah cair yang
mengalir ke Kali Tengah tersebut merusak sekitar 18 hektar tanaman padi
milik warga Desa Driyorejo, Kecamatan Driyorejo, Gresik.Pantauan tingkat
pencemaran limbah milik produsen detergen PT Wings Surya dilakukan oleh
Divisi Pengaduan Pencemaran Lingkungan Ecoton yang mengambil sampel air
pada tanggal 16 September 2008, 16 O ...
Berita Selengkapnya :
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/27/21580820/limbah.wings.cemari.18.ha.sawah.
Pesan :
Limbah Wings
Minggu, 12 Oktober 2008
ROL News - Andre Hirata : Jangan Pernah Takut Bermimpi
Andre Hirata : Jangan Pernah Takut Bermimpi
Minggu, 12 Oktober 2008 pukul 14:28:00
SURABAYA--Penulis novel "Laskar Pelangi", Andrea Hirata, berpesan kepada kalangan pelajar, anak-anak panti asuhan dan anak jalanan tidak takut bermimpi (bercita-cita tinggi) meski dalam keterbatasan.
"Jangan menyerah, jangan mengeluh, jangan berkecil hati, belajar yang giat dan beranilah bermimpi," katanya sebelum pemutaran film "Laskar Pelangi" yang disutradari Riri Reza, di Surabaya, Ahad (12/10).
Dalam program "nonton bareng" yang diprakarsai Telkom Divre V Jatim itu ada sekitar 800 anak-anak panti asuhan, pelajar berprestasi dari berbagai sekolah di Surabaya, komunitas pengguna Flexi dan anak jalanan turut menyaksikan film bertema pendidikan tersebut.
"Saya merasa bangga bisa hadir disini, bisa menyaksikan pemutaran film Laskar Pelangi bersama anak-anak pelajar, anak-anak panti asuhan dan anak jalanan yang selama ini tidak ada akses untuk ke mal," katanya.
Ia mengakui bahwa pemutaran film layar lebar yang diangkat dari novel yang ditulisnya itu hanya salah satu program "nonton bareng", karena sebenarnya ada sejumlah pihak yang menyelenggarakan dan mengharapkan dirinya bisa hadir.
Namun, kata Andrea yang juga karyawan Telkom itu, kehadirannya di Surabaya untuk bisa menyaksikan film Laskar Pelangi bersama kalangan pelajar, anak yatim piatu dan anak jalanan, merupakan pilihan dan kesempatan yang tidak ingin dilewatkan.
Sebelum pemutaran film Andrea Hirata selain didaulat untuk memberikan tandatangan kepada para penggemarnya, juga memberi sambutan.
Dalam kata sambutannya Andrea menyatakan rasa harunya karena novel yang ditulis dan kemudian diangkat ke layar lebar mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.
Bahkan, dalam tiga pekan pemutaran film Laskar Pelangi di sejumlah daerah sejak 25 September lalu, sudah sekitar dua juta masyarakat menontonnya.
"Selamat menyaksikan, mudah-mudahan isi film ini dapat menginsiprasi dan bermanfaat," katanya seraya menambahkan bahwa royalti dari novel yang ditulis dan telah difilmkan itu nantinya akan dimanfaatkan untuk membangun sekolah.
Film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel Andrea Hirata itu merupakan novel yang mengangkat cerita berlatar belakang kehidupan masyarakat pesisir di Belitong dengan tokoh sentral Ikal (Andrea Hirata).
Film yang berdurasi sekitar dua jam itu digambarkan mengenai kegigihan dan dedikasi yang luar biasa para guru di daerah terpencil (Harfan dan Muslimah) agar anak-anak usia sekolah tetap dapat mengenyam pendidikan secara memadai.
Harfan dan Muslimah merupakan figur guru yang patut diteladani. Dalam kondisi yang serba terbatas, mereka bertekad untuk bisa mendidik Ikal, Mahar, Lintang, dan siswa SD Muhammadiyah Gantong, yang selanjutnya dijuluki "Laskar Pelangi", menjadi anak-anak yang pintar tapi tetap beretika dan bermoral.
Turut menyaksikan pemutaran film Laskar Pelangi itu diantaranya Ketua Penggerak PKK Kota Surabaya Ny Katarina Bambang DH serta Executive General Manager Telkom Divre V Jatim, Triana Mulyatsa. ant/fif
Jumat, 10 Oktober 2008
Hebatnya Krisis Keuangan di AS saat ini
Kalau Langit Masih Kurang Tinggi
Oleh: Dahlan Iskan
Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta
saya ''menceritakan' ' secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan
di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang
sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:
Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus
berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba
sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap
tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan
direkturnya.
Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau
tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang
mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya
harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.
Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu
orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek
perusahaan mereka.
Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau
para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih
tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.
Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin
jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen)
yang kian banyak.
Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana
dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau
cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi
cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal,
hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya.
Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa
tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang
bisa untung, tapi kadang bisa rugi?
Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target.
Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya.
Mengapa? Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO.
Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung
sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus
yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih
besar dari gaji Presiden George Bush . Mana bisa dengan gaji sebesar
itu masih stres?
Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian
seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa
untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan,
harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin
jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja
jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak
dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya
hostile take over.
Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi
untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa
mendapat jalan.
Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para
direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar
setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus
naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar.
Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana .
Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan
kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli
kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan
kerasnya. Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin
maju lagi.
Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau
tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau
Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa
menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya
cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2 triliun!
Sudah lebih dari 60 tahun cara ''membesarkan' ' perusahaan seperti
itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi
kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi
penguasa dunia.
Tapi, itu belum cukup.
Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap
tidak cukup lagi: harus computerized!
Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus
meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah
sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga
belum cukup.
Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi
perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus
meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan
dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah,
harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah.
Demikian juga mobilnya.
Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan
beli rumah?
Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa
lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar?
Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana
bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana
perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya,
semua perusahaan harus semakin besar?
Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada
1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut '' Deregulasi Kontrol
Moneter ''. Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat
diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh
mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara
pasti. Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.
Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan,
asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang
dimanfaatkan perbankan secara nyata.
Begini ceritanya:
Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam
undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan
memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja
seperti KPR, meski tidak sama).
Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh
ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan
bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan
bunga 6 persen setahun.
Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage.
Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan
properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat
dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.
Dengan keluarnya ''jalan baru'' pada 1980 itu, terbuka peluang untuk
menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup.
Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif.
Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.
Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan.
Maka, ada lagi ''jalan baru'' yang dibuat pemerintah enam tahun
kemudian. Yakni, tahun 1986.
Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu
isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga
berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya
rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam
fasilitas itu.
Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan
yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti
di Swedia atau Denmark , gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen.
Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan
gratis. Hari tua juga terjamin.
Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat
drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun
berikutnya.
Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar
setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-
tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD
700 miliar setahun.
Kata ''mortgage'' berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis.
Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah.
Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah.
Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh
menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.
Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet,
rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar
bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak
membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda
harus langsung pergi dari rumah tersebut.
Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti
Lehman Brothers?
Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya
karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh
''para pelaku bisnis keuangan'' sebagai peluang untuk membesarkan
perusahaan dan meningkatkan laba.
Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas
mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli
rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.
Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para
pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi
untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli
rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya
terus naik.
Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar , bank masih untung.
Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.
Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam
undang-undang perbankan yang keras.
Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.
Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ''bank
jenis lain'' yang disebut investment banking.
Apakah investment banking itu bank?
Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ''hanya mirip'' bank. Ia lebih
bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat
banyak hal: menerima macam-macam ''deposito'' dari para pemilik
uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli
saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private
placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa
melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan! Lehman Brothers,
Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.
Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi
pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan
dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam
kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment
banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang
dengan istilah ''personal banking''.
Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu
yang menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di
sana , saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit.
Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih
itu.
Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu
saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau
menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada
dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk
memutar cash-flow.
Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu
hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage,
yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta
mortgage.
Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan
oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup
seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke
atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik
atau
turun.
Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah
lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600.
Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus
melakukan penghematan pengeluaran.
Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian
tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500
sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar , rumah itu bisa
disita. Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi
dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.
Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu
kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit.
Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah.
Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun
harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai
pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar .
Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula
menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang
lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi
itu menjaminkan ke yang beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang
lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu
roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.
Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu?
Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5
triliun dolar. Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana
APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana
itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar
lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?
Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau
menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan
sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh
bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.
Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah
dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak
perusahaan dan orang Indonesia yang ''menabung'' - kan uangnya di
lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan
itu.
Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya
tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya
pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.
Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu
menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan
dunia.
Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan
sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang
tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana . Kita, setidaknya,
masih bisa menanam jagung.(*)
Kamis, 02 Oktober 2008
Limbah Kaca Jadi Barang Bernilai Ekonomi
[Denpasar.Ekonomi Bisnis] 29.09.2008 18:58 wita
Pemanfaatan pecahan kaca atau limbah kaca menjadi sesuatu yang berguna, bahkan bisa dijadikan penyokong ekonomi keluarga. Aktivitas pemanfaatan limbah kaca ini sudah dilakoni sejak tiga tahun lalu oleh Wira Budiasa. Dia bisa seperti sekarang berkat pengalamannya bekerja di beberapa tempat terutamanya yang berkaitan dengan dunia pariwisata dan termasuk binaan secara kontinyu dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar.
"Kita sangat bersyukur hidup di Bali yang sudah punya nama bagus di manca negara," kata Wira. Lanjut Wira memanfaatkan sampah dari yang tidak berguna menjadi hasil guna dengan demikian dapat meningkatkan ekonomi rumah tangga.
Disamping dapat membantu meningkatkan perekonomian, pengelolaan sampah terutamanya sampah kaca juga bermanfaat untuk kelestarian lingkungan. Karena kelestarian lingkungan dapat menunjang pembangunan yang berwawasan lingkungan dari pada sampah kaca dibuang sembarangan.
Ditanya hasil produksinya Wira mengungkapkan tergantung orderan, bisa mencapai ribuan begitu juga dengan model yang telah dihasilkan tidak terhitung hampir ribuan jenis yang bisa diolah dari limbah kaca. Bentuknya bermacam-macam dari gelas, pas bunga, botol sampai perlengkapan rumah tangga lainnya.
Pemasarannya sendiri tidak menjadi hambatan. Produk yang dihasilkan lebih banyak dipasarkan ke hotel, restoran dan vila. Tidak sedikit pula hasil produksinya dibeli oleh tamu asing yang kebetulan berlibur ke Bali, maupun langsung melalui email.
Mengenai harga dia memperlakukan harga ritel. Kalau harga satuan ada yang berharga Rp. 50.000,-, jika satu set jenis kendel oman harganya hingga jutaan. (ctg/*)
----------------------------------------------------------------------------
Anda mendapat email ini secara otomatis dari mail server website www.beritabali.com.
www.beritabali.com
---------------------------------------------------------------------------