Tampilkan postingan dengan label Pengolahan Sampah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengolahan Sampah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Maret 2010

Sampah Bantar Gebang Akan Jadi Listrik

Sampah Bantar Gebang 


JAKARTA, KOMPAS.com — Timbunan sampah di Tempat Pemusnahan Sampah Terpadu Bantar Gebang atau TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, akan segera diubah menjadi sumber energi. Di lokasi itu akan didirikan pembangkit listrik baru bertenaga sampah atau PLTS.

PLTS rencananya akan dikembangkan untuk menghasilkan tenaga listrik 26 MW. Sampah memang tidak beperan langsung menghasilkan listrik, tetapi diproses dulu untuk menghasilkan gas metan yang akan diubah menjadi energi listrik.

Mula-mula, sampah-sampah dari TPST Bantar Gebang dikumpulkan dan diolah melalui sebuah proses pengolahan yang disebut control and sanitary landfill, yakni proses penguraian, penutupan, dan pemanasan sampah untuk menghasilkan gas metan.

Kamis, 11 Maret 2010

2011, Jakarta Bebas Kantong Plastik



JAKARTA--Pemprov DKI bersama Kadin DKI menargetkan Jakarta bebas dari penggunaan kantong plastik pada 2011 karena sifat bahan plastik yang sulit terurai secara alami sehingga dinilai berbahaya. "Kita akan menyiapkan tas untuk menggantikan plastik dari bahan daur ulang atau bahan yang tidak mencemari lingkungan," kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo seusai bertemu Kadin DKI di Balaikota Jakarta, Senin.
Asosiasi ritel disebut Gubernur akan menjadi pionir untuk berhenti menggunakan kantong plastik untuk membungkus belanjaan konsumen dan menggantinya dengan tas yang menggunakan bahan tidak berbahaya.

Jumat, 03 April 2009

Bantar Gebang Dibenahi

 
Sampah Bantar Gebang

Jumat, 3 April 2009 | 06:24 WIB


BEKASI, KOMPAS.com - Setelah tertunda beberapa tahun, pembangunan industri pengolahan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantar Gebang, Bekasi, akhirnya dimulai, Kamis (2/4). Industri pengolahan itu akan mengubah sampah dari Jakarta menjadi kompos, biji plastik, dan listrik.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Wali Kota Bekasi Mochtar Muhammad meletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan industri pengolahan sampah. Pembangunan fasilitas industri pengolahan itu akan menjadikan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang sebagai yang paling modern di Indonesia.

Mochtar mengatakan, industri pengolahan yang dikelola oleh PT Godang Tua Jaya dan PT Navigat Energi Organik Indonesia itu mampu mengolah 4.500 ton sampah yang dikirimkan setiap hari. Sampah yang semula dikelola dengan sistem penimbunan atau sanitary land fill kini diubah menjadi produk-produk bernilai ekonomi.
Sistem pengolahan sampah yang dibangun dengan dana investasi Rp 700 miliar itu, kata Mochtar, jauh lebih ramah lingkungan daripada sistem sanitary land fill. Tidak ada pencemaran lindi atau air sampah karena industri itu memiliki sistem pengolahan limbah cair.

”Industri ini juga memanfaatkan gas metan yang dihasilkan sampah untuk menjadi bahan bakar bagi pembangkit listrik. Gas metan dari TPST tidak lagi mencemari udara dan tidak merusak lapisan ozon,” kata Mochtar.

Pembangkit listrik di TPST Bantar Gebang mampu menghasilkan 26 megawatt listrik. Listrik itu akan dibeli oleh PLN dan masuk dalam jaringan distribusi Jabodetabek. Di sisi lain, industri pengolahan sampah tidak membutuhkan penambahan lahan secara berkala. Dengan demikian, Pemerintah Kota Bekasi dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak perlu repot memikirkan perluasan kawasan untuk menampung sampah baru.

Perluasan lahan TPST sering menjadi masalah karena banyak protes dari masyarakat sekitar TPST. Lahan TPST seluas 108 hektar juga sering menjadi komoditas politik terkait dengan kompensasi.

Menguntungkan

Fauzi Bowo memuji kerja sama Pemkot Bekasi untuk mewujudkan industri pengolahan sampah modern itu. Kerja sama itu bukan hanya menguntungkan kedua pemerintah, tetapi juga warga sekitar. ”Industri pengolahan sampah ini membuka lapangan kerja bagi 1.200 warga setempat sebagai tenaga pemilah sampah,” kata Fauzi.

Pola kerja sama antardaerah semacam ini akan dikembangkan di Tangerang. Pemprov DKI Jakarta dan Pemerintah Kabupaten akan membangun industri pengolahan sampah serupa di Ciangir, Tangerang.

Jika TPST Bantar Gebang untuk menampung dan mengolah sampah di Jakarta bagian timur, industri pengolahan sampah di Ciangir akan mengolah sampah dari Jakarta bagian barat. Pemprov DKI Jakarta dan mitra swasta juga sudah membangun industri pengolahan sampah di Cakung-Cilincing, Jakarta Utara, yang mampu mengolah 1.500 ton sampah menjadi kompos atau bahan bakar padat.

Di sisi lain, kata Fauzi, Pemprov DKI Jakarta akan mencari kompensasi dari dunia internasional karena pengolahan sampah di TPST Bantar Gebang ramah lingkungan. Kompensasi dana internasional melalui mekanisme kredit karbon akan digunakan untuk menambah industri pengolahan sampah yang ramah lingkungan.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/04/03/06245070/Bantar.Gebang.Dibenahi.

Kamis, 12 Maret 2009

Kunci Konversi Sampah ke Energi Listrik Ditemukan

JAKARTA--MI: Mimpi mengubah sampah dan limbah menjadi aliran listrik kian mendekati kenyataan, terlebih ketika para peneliti dari Universitas Minnesota Amerika Serikat menemukan kunci konversi sampah ke listrik.

Baru-baru ini hasil penelitian tim Universitas Minnesota mendapati bahwa organisme bakteri yang mampu menghasilkan listrik bisa ditingkatkan produksi energinya dengan pasokan riboflavin - yang lazimnya dikenal dengan vitamin B-2.

Bakteri penghasil listrik itu bernama Shewanella, seringnya didapati di air dan tanah.

“Bakteri ini bisa mengubah asam susu (lactic acid) menjadi listrik,” kata Daniel Bond dan Jeffrey Gralnick dari Jurusan Mikrobiologi Institut Bio-Teknologi Universitas Minnesota yang memimpin penelitian.

"Ini sangat membahagiakan buat kami, karena menuntaskan teka-teki biologi yang sangat fundamental," kata Bond.

Ia menjelaskan, "Para pakar selama sudah bertahun-tahun mengetahui bahwa Shewanella bisa menghasilkan listrik. Dan sekarang kami tahu bagaimana bakteri ini melakukannya."

Penemuan ini juga berarti bakteri Shewanella bisa memproduksi energi lebih banyak lagi bisa riboflavin ditingkatkan jumlahnya. Selain itu penelitian tim Universitas Minnesota ini juga membuka peluang bagi berbagai inovasi di bidang energi terbarukan dan pembersihan lingkungan.
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 3 Maret 2008.

Tim penelitian yang lintas-disiplin ilmu ini menunjukkan bahwa bakteri tumbuh di elektroda yang secara alamiah menghasilkan riboflavin.

Karena riboflavin sanggup membawa elektron dari sel-sel hidup ke elektroda, maka angka produksi listrik pun bisa ditingkatkan menjadi 370 persen saat riboflavin ditambah jumlahnya.

Penambahan bahan bakar mikroba ini menggunakan bakteri serupa yang bisa menghasilkan listrik untuk membersihkan limbah air.

"Bakteri bisa membantu kita menurunkan biaya pabrik pengelolaan limbah air," kata Bond.

Tapi untuk aplikasi yang lebih ambisius seperti listrik untuk transportasi rumah atau bisnis, masih kata Bond, dibutuhkan temuan ilmu biologi yang lebih mutahir dan pasokan bahan bakar sel yang lebih murah.

Lalu timbul pertanyaan, "Bagaimana bakteri ini bisa menghasilkan listrik?"

Secara alamiah, bakteri seperti Shewanella butuh mendapatkan dan melarutkan benda-benda logam seperti besi. Dengan kemampuan mengarahkan secara langsung elektron ke logam, membuat bakteri ini bisa mengubah kadar kimia dan tingkat ketersediaannya.

"Bakteri sudah sejak miliar tahun lalu mengubah kadar kimia di lingkungan hidup kita," kata Gralnick.

"Kemampuan mereka membuat besi menjadi zat yang terlarutkan adalah kunci dari proses siklus logam di lingkungan dan memainkan peran yang sangat penting buat kehidupan di Bumi," tambahnya.

Proses ini bisa berlaku terbalik untuk menghindari logam terkena kerosi, teruma buat logam-logam di kapal laut. (Ant/OL-06)