Tampilkan postingan dengan label Air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Air. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 April 2010

Peneliti: Air Embun Mampu Atasi Gangguan Sirkulasi Darah

 Jakarta (ANTARA News) - Air minum embun dalam botol (purence dew drinking water) yang dihasilkan dari kelembaban udara dengan teknologi syatemized dew process (SDP) akan mampu mengatasi gangguan sirkulasi darah, kata peneliti dari Badan Litbangkes Kemenkes.

Dalam Seminar Upaya Preventif dan promotif tentang mengatasi gangguan sirkulasi darah di Jakarta, Rabu, Dra Lucie Widowati, Apt, MS dari Badan Litbangkes itu mengatakan, air minum embun Purence merupakan nutrisi dari makanan yang dikonsumsi sehingga dapat terditribusi dengen lebih efisien dan efektif untuk membuang racun dari dalam tubuh.

Jumat, 26 Maret 2010

KEMBALIKAN HAK PUBLIK ATAS AIR

Catatan Hari Air Sedunia 22 Maret 2010

Masyarakat internasional telah menetapkan tanggal 22 Maret sebagai Hari Air Sedunia. Momentum tersebut tentu memiliki makna penting, sebab disatu sisi dapat mengingatkan semua pihak bahwa air sangat vital bagi kelangsungan kehidupan di bumi, dan  pada sisi yang lain, air bisa menjadi sumber ancaman yang serius bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Kelangkaan serta degradasi kualitas air yang terjadi akibat degradasi lingkungan hidup memang bisa memicu munculnya berbagai bencana, seperti kelangkaan pangan, mewabahnya aneka macam penyakit, dan sebagainya. Sementara pada saat bersamaan, juga terjadi  banjir, rob, tanah longsor, dan sebagainya yang menjadi indikasi kegagalan manusia dalam mengelola air secara bijak.
Saat ini, permasalahan tersebut  sudah kerap terjadi di Indonesia.  Kelangkaan air saat  air hujan berkurang, sering melanda  di beberapa wilayah di tanah air. Sedangkan saat musim hujan, peningkatan air justru membawa petaka dengan munculnya banjir di kawasan yang dulu tidak pernah mengalami kebanjiran seperti kawasan Palangkaraya dan Samarinda.

Rabu, 01 April 2009

Botol Plastik + Sinar Matahari = Air Minum

Oleh : Richel Langit-Dursin

JAKARTA (IPS) - BOTOL-BOTOL plastik dan sinar matahari dipakai warga Bintaro, Jakarta Selatan, untuk memenuhi kebutuhan keluarga terhadap air bersih untuk keperluan minum.

Warga Bintaro, yang warga miskinnya kebanyakan tinggal dekat tempat pembuangan sampah di Jalan Bintaro Permai di Pesanggrahan, hanya bermodalkan botol-botol plastik bekas dan terik matahari untuk menghasilkan air, yang mereka pompa dari tanah, layak minum.

“Kami tak perlu mengeluarkan uang lagi untuk mendapatkan air minum yang bersih,” ujar Dewi, ibu rumahtangga berusia 29 tahun dengan tiga anak.
Seperti juga para tetangganya, Dewi mensterilkan air kotor itu dengan memasaknya. Dia membelanjakan Rp 45.000 untuk membeli 15 liter minyak tanah bersubsidi setiap bulan. Meski uang itu kelihatannya kecil, tapi sangat berarti bagi Dewi. Suaminya hanya berpenghasilan Rp 10.000 per hari.

Harga satu liter minyak tanah Rp 3.000. Di sejumlah tempat di Jakarta, minyak menjadi langka sejak perusahaan minyak milik negara Pertamina mengurangi pasokannya sebagai upaya pemerintah mempromosikan penggunaan elpiji.

Sejak dua bulan lalu Dewi menggunakan metode sterilisasi air yang murah dengan menjemurnya di bawah sinar matahari. Sejak itu, dia bisa menghemat uang untuk minyak tanah. Tidak seperti sebelumnya, Dewi sekarang hanya membeli enam liter minyak tanah per bulan untuk memasak. Uang yang bisa dia hemat dipakai untuk biaya sekolah putrinya yang berusia 12 tahun.

Metode tersebut, yang juga dikenal dengan proses menjemur air (solar water disinfection) atau SODIS, memungkinkan warga menghemat uang yang bisa dipakai untuk berobat. Menurut warga, anak-anak mereka jarang terkena diare. Seorang warga laki-laki percaya bahwa air hasil proses ini bisa mengobati diabetes.

“Ini sama seperti air kemasan,” ujar Mulyani, kepala desa berusia 40 tahun, yang awalnya ragu dan takut meminum air yang dia sterilkan di bawah sinar matahari.

Sebanyak 52 keluarga miskin di Bintaro Permai belajar metode hemat energi itu dari Emmanuel Foundation. Organisasi nonpemerintah ini didirikan oleh Emmanuel Laumonier, mantan mahasiswa Jakarta International School (JIS). Awalnya dia menolak terlibat dalam proyek pelayanan masyarakat. Tapi setelah bekerja di panti asuhan, dia memutuskan mencurahkan hidupnya untuk membantu sesama.

“Proses menjemur air tidaklah sulit,” ujar Mindy Weimer, mantan mahasiswa JIS yang menjadi direktur Program Air di Emmanuel Foundation. Mempromosikan akses ke air bersih hanyalah salah satu proyek lembaga ini. Organisasi ini juga menyediakan layanan pendidikan dan kesehatan untuk anak-anak yatim piatu.

Untuk mendapatkan air bersih, warga harus membersihkan botol plastik yang bening, mengisinya dengan air, menutup rapat tutup botol, dan menjemurnya di bawah sinar matahari selama enam jam. Botol harus terisi penuh. Sebab, udara bisa membelokkan sinar ultraviolet dan menghalanginya untuk membunuh bakteri dalam air.

Jika botol diletakkan di atas sepotong kain hitam, air akan menyerap panas lebih cepat. Karena miskin, warga menempatkan botol-botol itu di atap gubuk mereka.

Ketika warga belajar proses SODIS ini, mereka takjub bahwa sinar matahari bisa membunuh bermacam bakteri dalam air yang menyebabkan penyakit seperti diare, tipus, kolera, dan disentri.

Salah satu masalah mereka adalah kekurangan botol-botol plastik. Sebab, mereka juga menjualnya untuk mendapatkan uang. Dewi, misalnya, hanya menggunakan tiga botol plastik, sementara keluarganya mengonsumsi sekitar empat botol air setiap hari.

“Jika kami benar-benar kehausan, kami minum air tanah secara langsung,” ujar Dewi.

Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, sekitar 80 persen penduduk Indonesia mendapatkan air dari sumber yang tercemar. Air tanah di Indonesia terkontaminasi bakteri faecal coliform karena banyak warga tidak punya tempat pembuangan kotoran (septic tank).

Kontaminasi juga disebabkan oleh pipa yang berkarat, banyak di antaranya sudah dipakai selama 80 tahun –dipasang selama masa kolonial Belanda.

Data itu juga menunjukkan, lebih dari 100 juta orang Indonesia tidak memiliki akses air layak minum. Perusahaan-perusahaan air di Indonesia, negara berpenduduk keempat terbesar di dunia, hanya mampu melayani sekitar 40 persen rumahtangga perkotaan. Selebihnya bergantung pada sumber lain seperti sumur atau penjual air. Di daerah pedesaan, perusahaan air hanya melayani 10 persen rumahtangga.

Orang-orang Indonesia, yang tidak memiliki akses air bersih, membeli air seharga Rp 25.000 per meter kubik.

Sanitasi yang buruk menyebabkan sekitar 100.000 anak-anak meninggal dunia karena diare setiap tahun. Penyakit ini menempati urutan kedua sebagai penyebab kematian anak-anak di Indonesia.

Selain menerapkan metode SODIS, orang-orang di Indonesia memasak air, menggunakan sistem saringan keramik (ceramic filter system), atau membeli larutan sodium hypochlorite untuk mengatasi air yang terkontaminasi. Menurut Kementerian Kesehatan, dari semua metode penanganan air itu, memasak air paling populer. Lebih dari 90 persen penduduk melakukannya setiap hari.

Tapi, menurut Zainal Nampira, kepala subdirektorat Penyehatan Air di Kementerian Kesehatan, memasak air menyebabkan polusi udara.

“Asap dari pembakaran minyak tanah atau katu bakar menyebabkan iritasi mata dan masalah pada paru-paru,” ujar Nampira. Dia menambahkan, organisme penyebab penyakit tidak mati jika air tidak dimasak dengan benar. Untuk membuatnya aman diminum, air harus dibiarkan mendidik selama satu menit.

Meski hemat biaya, menjemur air saat ini hanya dipraktikkan oleh sedikit komunitas. Orang Indonesia yang mampu membeli segalon air mineral, yang harganya sekitar Rp 9.000.

Di luar Jakarta, metode sederhana itu diterapkan oleh sejumlah warga Yogyakarta yang terkena gempa dan warga di provinsi Lombok Timur.

Salah satu alasan yang membuat warga enggan menggunakan metode ini adalah prosesnya lama. Selama hari-hari cerah, mereka harus menunggu selama enam jam agar air dimurnikan. Tapi jika cuaca mendung, mereka harus membiarkan botol-botol plastik itu selama dua hari.

“Kami tidak bisa mengandalkan cuaca. Terkadang hari tidak begitu cerah,” ujar Syarief, warga Tanjung Priok meratap.

Di Indonesia, musim penghujan jatuh pada bulan November dan berakhir pada bulan Maret. Tapi, warga Jakarta masih menerima hujan sampai bulan Juli.

Alasan lainnya, orang Indonesia, khususnya di Jawa, lebih suka minum teh panas. Maka, mereka memilih memasak air.

“Alasan lain mengapa penduduk tidak suka menjemur air adalah bahwa mereka merasa metode ini hanya untuk orang miskin,” ujar Arum Wulandari, ahli kesehatan masyarakat dari Emmanuel Foundation.

Untuk alasan kesehatan, lembaga ini tidak menganjurkan air hasil SODIS untuk konsumsi anak-anak di bawah usia dua tahun dan orang dengan HIV/AIDS. Sebab, mereka punya sistem kekebalan tubuh yang rendah. Lembaga ini juga belum melakukan riset yang cukup untuk meyakinkan bahwa proses SODIS ini efektif melawan penyakit polio.

“Menjemur air di bawah sinar matahari tidak membunuh seluruh bakteri,” ujar Wulandari. Dia menganjurkan penduduk yang menggunakan metode ini membersihkan botol-botol plastik sebelum mengisinya dengan air.

Lembaga ini menemukan sejumlah warga di Tanjung Priok memakai botol-botol plastik berkali-kali tanpa membersihkannya.

Untuk mempromosikan penggunaan metode ini, Emmanuel Foundation mendistribusikan buku-buku komik ke anak-anak sekolah, khususnya mereka yang tinggal di perkampungan miskin. “Kami percaya bahwa anak-anak bisa mempengaruhi orangtua mereka untuk mendapatkan air melalui pemurnian matahari,” ujar Mita Sirait, promotor kesehatan masyarakat dari lembaga ini.

Buku-buku komik itu menggambarkan seorang gadis sedang berlari-lari di lapangan dengan ayahnya. Setelah lelah berlari, gadis itu, Ani namanya, meminta ayahnya membeli air kemasan. Mereka meminum smapai tandas. Sang ayah akan melemparkan botol plastik yang sudah kosong itu tapi Ani mencegahnya.

“Dengan botol ini kita bisa menyulap air mentah menjadi air yang sehat untuk diminum,” kata Ani.

Setelah itu Ani menjelaskan proses membuat air sehat dengan sinar matahari dan dampak negatif minum air mentah, didasarkan apa yang dia telah pelajari dari gurunya.

“Jika kita tidak punya sikat untuk membersihkan botol plastik itu, kita bisa menggunakan batang bambu atau kayu dan mengikatkan sehelai kain pada ujungnya,” ujarnya. Kisah pun berakhir dengan keluarga Ani yang hidup bahagia dan sehat.*


Translated and edited by Budi Setiyono

*) Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS.
Sumber : http://www.pantau.or.id/inc/printberitakerjasama.php?id=82

Kamis, 12 Maret 2009

2025, Dunia Hadapi Krisis Air bersih

Sabtu, 7 Maret 2009 - 14:52 wib, Stefanus Yugo Hindarto - Okezone
ISTANBUL - Ahli konservasi dunia memperkirakan dua dari tiga penduduk dunia akan kesulitan mendapatkan akses bersih pada tahun 2025. sebab itu, sebanyak 25.000 ahli konservasi akan berkumpul di Istanbul, Turki untuk membicarakan masalah kelangkaan air bersih tersebut dalam waktu dekat.

Pertemuan yang digagas International Union for Conservation of Nature (IUCN) tersebut mencoba untuk menyumbangkan pikiran dan gagasan untuk mendorong pemerintah disemua negara menerapkan kebijakkan yang tepat tentang permasalahan air.

"Perubahan iklim dan permasalahan krisis air jelas menjadi pembahasan utama dalam pertemuan mendatang, selain bencana seperti badai," kata kepala IUCN, Mark Smith seperti dilansir RedOrbit, Sabtu (7/3/2009).
Sebelumnya, seorang professor National University, Singapura, Wong Poh Poh telah mengungkapkan jika pada tahun 2050 setengah dari jumlah penduduk dunia diprediksi akan kesulitan mengakses ketersediaan air bersih pada 2050. Hal itu disebabkan Pengaruh perubahan iklim menjadi faktor utama berkurangnya stok air di muka bumi.

Menurutnya di Asia bencana itu akan sangat mengerikan. Distribusi air menjadi tidak merata dan beberapa wilayah akan sangat sulit mengakses air bersih, terutama India dan China. Tingginya jumlah penduduk juga mendorong kedua negara itu kesulitan sumber air bersih.
(srn)

Kamis, 19 Februari 2009

Saringan Air Portable

Halo kawan-kawan,

Apa kabar, sudah lama gak ada kabar dari kawan-kawan dimilis. Saya butuh masukan dari kawan-kawan, bagaimana menciptakan alat penyaring air yang portable. Yang mudah dibawa, mudah digunakan.

Latar belakang kenapa saya ada ide ini, karena banyaknya bencana ditanah air kita ini. Barang yang paling diperlukan ibu-ibu adalah air bersih. Untuk ibu-ibu, diperlukan untuk bersih-bersih, apalagi jika sedang datang bulan. dan juga diperlukan untuk memandikan bayi dll.Insya Allah ide ini akan saya sampaikan ke penyandang dana untuk diproduksi dan dibagikan secara gratis.

Hal lain yang saya sesalkan adalah tidak ada orang yang perhatian terhadap danau, situ ataupun apa namanya. Penampung air yang sudah terbentuk oleh alam tidak dijaga kelestariannya. Banyak terjadi pendangkalan dll.

Ayo kawan-kawan... bantu warga disekeliling kita....


Salam


Taufik Rakhmadani
Email : madanijayen@yahoo.co.id


NB : di copy dari milist KASTTL oleh Moderator KASTTL, agar kawan - kawan alumni bisa memberikan komentar dan masukan. Serta bisa merasakan manfaat join di milist KASTTL. Bagi yg belum join silahkan masukkan email di kotak kuning sebelah kanan halaman ini. Yang ingin kasih komentar dan masukan di blog ini juga bisa, silahkan klik tulisan "komentar" dibawah ini.

Kamis, 12 Februari 2009

Banjir dan Kebangkrutan Air

Sejumlah warga Kelurahan Balun, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah,
terpaksa menggunakan perahu sebagai alat transportasi darurat untuk menuju rumah mereka, Senin (2/2).

KOMPAS, Rabu, 4 Februari 2009 | 20:41 WIB

Oleh Ninok Leksono

Hari-hari ini, salah satu berita yang menonjol adalah bencana banjir. Bengawan Solo yang meluap merendam kota-kota yang dilaluinya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Inilah fenomena yang sebenarnya telah ada bersama kita sejak bertahun-tahun silam.

Dari pengalaman ini, salah satu hal yang melegakan adalah bahwa sebenarnya musim masih berjalan normal-normal saja, ditandai oleh meningkatnya curah hujan pada bulan Januari dan Februari. Yang bisa dicermati lebih lanjut mungkin intensitas hujan itu sendiri, yang diyakini terkait dengan munculnya gejala perubahan iklim akibat pemanasan global.

Pengalaman manusia dengan air secara umum bisa dibagi dalam dua ekstrem. Yang pertama adalah masa kerepotan karena dihantam oleh air dalam jumlah besar, apakah itu dalam wujud air bah, banjir besar, atau hantaman gelombang besar tsunami seperti yang terjadi di Aceh akhir tahun 2004. Yang kedua adalah masa kesusahan akibat kelangkaan air, seperti saat muncul gejala El Nino tahun 1982 yang menyebabkan musim kemarau panjang.

Ke depan, kedua ekstrem itu pula yang akan terus mewarnai kehidupan di Bumi. Di satu sisi, manusia akan mendapat kelebihan air akibat pemanasan global yang akan melelehkan es di kutub dan di puncak gunung. Laporan terakhir menyebutkan, sebagian selimut es di Pegunungan Himalaya dan Tibet akan lenyap pada tahun 2100 dengan tingkat pelelehan yang ada sekarang ini, dan itu akan memberi air bagi 2 miliar penduduk dunia.

Pada sisi lain, laporan yang terbaru juga menyebutkan bahwa manusia akan dilanda kelangkaan air parah karena air disebut akan bangkrut, tidak ada lagi. Tentunya di sini yang dimaksud adalah air yang bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari dan bisa diperoleh secara ekonomis.

Dari Davos

Laporan baru yang dimaksud disampaikan Jumat di Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang berlangsung di Davos, Swiss, 28 Januari–1 Februari 2009. Penyebab kebangkrutan air adalah tingginya kebutuhan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dunia. Kelangkaan air ini, dalam 20 tahun mendatang, akan menyebabkan hilangnya tanaman pangan sebanyak yang bisa dihasilkan oleh India dan Amerika Serikat.

Ini tentu memprihatinkan karena justru dalam beberapa tahun ke depan kebutuhan pangan akan melonjak drastis. Menurut laporan yang dimuat kantor berita AFP ini, di masa depan dunia tidak akan bisa lagi mengelola air dengan cara yang sama seperti pada masa lalu.

Yang bisa jadi berbeda adalah persepsi mengenai harga air. Laporan dari Davos menyebut di sejumlah tempat di dunia air dijual terlalu murah dan banyak yang dihambur-hamburkan. Padahal, mungkin warga di sekitar Tanjung Priok menganggap air yang mereka beli sekarang ini pun sudah mahal.

Akibat dijual murah dan digunakan berlebihan, di banyak tempat selama sekitar 50 tahun terakhir ini terjadi bubble (gelembung) air—meminjam istilah ekonomi—dan dikhawatirkan akan diikuti dengan kebangkrutan.

Penggunaan air dalam jumlah besar terjadi untuk proses pembangkitan energi. Di AS proses ini membutuhkan air 39 persen dari semua air yang digunakan di negeri adidaya ini, sementara di Uni Eropa 31 persen. Padahal, jumlah air yang dikonsumsi hanya 3 persen.

Kebutuhan energi juga akan terus naik, demikian pula kebutuhan air. Hal ini membuat air yang diarahkan untuk pertanian akan berkurang.

Sungai mengering

Kalau di atas disinggung tentang melelehnya gletser Himalaya, bagian lain Laporan WEF ini juga menyebutkan, sekitar 70 sungai besar di dunia diperkirakan akan mengering total karena airnya disedot untuk irigasi dan reservoir.

Karena semakin langka, dalam dua dekade mendatang air akan dijadikan obyek investasi, yang bahkan mungkin nilainya lebih baik dibandingkan minyak.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Kimoon berpendapat, masalah air bersifat luas dan sistemik, dan karena itu penanggulangannya pun harus luas dan sistemik.

Kalangan usaha pun sepandangan bahwa dengan pengelolaan seperti yang ada sekarang ini, air bisa lebih cepat habis dibandingkan bahan bakar. Untuk mencegahnya, dibutuhkan kerja sama luas antara pemerintah, industri, akademik, dan pemangku kepentingan di seluruh dunia, ujar pimpinan PepsiCo Inc, perusahaan AS yang usahanya menggunakan air dalam jumlah besar.

Dicerna lebih jauh

Situasi yang dihadapi umat manusia berkaitan dengan air boleh jadi memang membingungkan karena di satu sisi dihadapkan pada ancaman perendaman wilayah pesisir akibat pemanasan global, tetapi pada sisi lain juga kelangkaan air.

Di kolom ini (27/11/2007) diangkat kekhawatiran Aliansi Negara Kepulauan Kecil saat mengadakan pertemuan puncak di ibu kota Maladewa, Male. Negara-negara yang perekonomiannya banyak bersandar pada turisme dan perikanan mengantisipasi datangnya ancaman naiknya permukaan air laut akibat melelehnya tudung es kutub.

Sejauh ini naiknya suhu udara sebesar 0,6 derajat celsius selama abad kemarin telah membuat permukaan air laut naik sekitar 20 cm. Namun, kalau es Greenland meleleh, lebih dahsyatlah akibatnya. Kenaikan sampai lebih dari 1 meter amat mungkin, bahkan kalau es Greenland meleleh total, kenaikan muka air laut bisa mencapai 7 meter! (NG News, 3/2/2009)

Baik ancaman kebanjiran maupun kelangkaan air akan sama-sama menyeramkan. Selama proses itu berlangsung, bisa kita bayangkan ketegangan sosial-ekonomi yang terjadi. Misalnya saja potensi terjadinya konflik akibat rebutan sumber air, atau tekanan ekonomi yang meningkat karena orang harus mengeluarkan dana besar untuk mendapatkan air.

Kita berharap seruan kerja sama berbagai pihak tanpa mengulur waktu mulai dari sekarang masih bisa mengurangi dampak kesengsaraan potensial yang dimunculkan oleh kedua permasalahan ekstrem yang ditimbulkan oleh air ini. Adanya kajian lebih serius yang diikuti oleh kebijakan konkret merupakan wujud kepedulian nyata.

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/xml/2009/02/04/20415835/banjir.dan.kebangkrutan.air