Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Januari 2009

Selama Bisa Akses Internet, Persahabatan Tetap Awet

Kompas, Rabu, 7 Januari 2009 | 11:19 WIB

"Jadinya, saya cuti dari kerjaan saja, enggak jadi cuti dari Facebook".

Demikian postingan seorang anggota situs jejaring sosial Facebook menjelang liburan akhir tahun lalu. Ya, meski tidak ngantor dan enggak menenteng laptop, sepanjang liburan lalu, ia bisa tetap mengakses Facebook lewat ponsel.

Facebook memang telah membuat para anggotanya tergila-gila dan sukses mengalahkan seniornya, seperti Friendster. Demam Facebook semakin menjadi-jadi lantaran para vendor berlomba menyajikan berbagai fasilitas untuk memudahkan pelanggan mengakses jejaring sosial kesayangannya.

Sebut saja BlackBerry. Ponsel pintar bikinan Research in Motion (RIM) ini menyediakan aplikasi langsung ke Facebook dan MySpace. Walhasil, para pengguna handset buatan Kanada ini bisa mengakses kedua situs itu secara realtime. Di Indonesia RIM menggandeng Excelcomindo Pratama (XL).

Manajer BlackBerry dan Layanan Internet XL Handono Warih mengatakan, pelanggan dapat mengakses Facebook dan MySpace asalkan membuka langsung dari web browser. "Inilah salah satu kelebihan BlackBerry. Para pengguna bisa mengakses kapan saja dan melakukan update," terangnya.

Vendor asal Amerika, Palm, juga memanjakan penggunanya dengan akses langsung Facebook. Hanya saja, para penggunanya kudu men-download aplikasi Facebook for Palm di situs resmi Palm, yakni http://mobile.palm.com/facebook.

Tapi, tidak sembarangan jenis ponsel bisa digunakan. Sistem operasinya harus memiliki RAM minimum 2 MB dan memiliki sistem operasi V5.4.9. Jadi, yang paling pas adalah Palm Centro, Palm Treo 680, dan Palm Treo 775p.

Fiturnya tidak sama 100 persen

Tak mau kalah, Nokia pun mulai menggandeng situs jejaring sosial lewat produk terbarunya, seri 5800 XpressMusic yang nongol pada Desember lalu. Produk ini mempunyai akses langsung ke Facebook. "Setelah motret bisa langsung di-upload ke Facebook, OVI, atau flicker," ucap Dominikus Susanto, Manajer Produk Nokia. Kerja sama yang terjalin itu berbentuk media sharing dan games.

Sementara Sony Ericsson bilang, akses ke seluruh situs jejaring sosial tersebut sebenarnya bisa dilakukan melalui semua website mereka. Tentu saja asalkan terhubung dengan akses internet. "Tapi homepage langsung tidak ada," ajar Djunadi Satrio, Kepala Pemasaran Sony Ericsson Indonesia.

Menurut dia, sepanjang bisa mengakses internet, sejatinya semua ponsel bisa menjangkau situs jejaring sosial mana pun. "Salah kalau ada anggapan bahwa situs tersebut hanya bisa diakses di jenis ponsel tertentu," tandasnya. Tahun lalu Sony Ericsson meluncurkan 20 jenis produk yang memiliki fitur untuk mengakses internet.

Banyak dari pengguna Facebook kini mengakses situs jejaring tersebut 24 jam nonstop dan berada di dua tempat, satu di notebook atau PC, satu lagi via ponsel. Enda Nasution, misalnya. Pengguna BlackBerry ini kerap mengakses Facebook dari ponselnya hanya untuk sekadar update status.

Enda bilang, salah satu kelebihan mengakses situs jejaring sosial di ponsel lantaran lebih cepat untuk update status. "Bukan saja dalam bentuk kalimat, tapi juga foto, secara instan dapat ter-update ke profile kita dan dilihat oleh teman kita," terangnya.

Namun jika via ponsel, fungsi dan fitur jejaring sosial dapat digunakan 100 persen. Tapi yang penting, tetap bisa mengakses Facebook, kan? (Avanty Nurdiana, Ahmad Febrian)*

Rabu, 14 Januari 2009

Cara Sederhana Mengusir Nyamuk

 
 Serangga di taman dapat diusir tanpa merusak tanaman kesayangan Anda.
Rabu, 14 Januari 2009 | 08:49 WIB
TIDAK harus menggunakan insektisida untuk mengusir serangga pengganggu pada taman. Trik sederhana ini bisa dicoba. Praktis dan ramah lingkungan.
Gunakan air sabun
Sabun mandi dapat dimanfaatkan untuk mengusir serangga pengganggu pada tanah. Caranya, ketika mencuci tangan menggunakan sabun mandi, tampung air sisa bilasannya dalam wadah penyiram tanaman. Gunakan air ini untuk menyiram tanah dan tanaman di kebun. Air ini dapat membunuh jasad renik kecil yang merugikan bagi tanaman di taman.

Rotasi jenis tanaman
Lakukan rotasi jenis tanaman yang ditanam. Langkah ini menghindarkan serangga musiman datang dan merusak taman dan tanaman. Rotasi dapat dilakukan secara berkala setahun sekali atau ketika ingin membangun ulang taman.

Pasang jebakan lalat dan nyamuk
Lalat dan nyamuk banyak ditemui di taman. Sebagian mungkin masuk ke dalam rumah. Untuk menghindari hal ini, pasang jebakan lalat dan nyamuk di teras rumah. Langkah ini dapat mencegah kedua serangga terbang dan serangga terbang lainnya masuk ke dalam rumah.
Selain lalat dan nyamuk, pada penghujung musim hujan biasanya banyak laron beterbangan keluar dari sarangnya dan terbang menuju area yang terang seperti ruang di dalam rumah. Guna mencegah laron masuk ke dalam rumah, nyalakan sebuah lampu di atas wadah air atau kolam. Laron akan mendatangi lampu itu dan secara tidak sengaja beberapa akan jatuh ke permukaan air. Pada sebuah kolam ikan, laron juga menjadi santapan lezat  bagi ikan.

Mengusir nyamuk
Tanam beberapa jenis tanaman yang tidak disukai nyamuk di antara tanaman lainnya. Tanam zodia, suren, geranium, lavender, selasih, serai, sirih, atau rosemary. Jenis tanaman ini memiliki bau yang tak disukai oleh nyamuk.

Tatang
Sumber : http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/14/08491418/Cara.Sederhana.Mengusir.Serangga

Jumat, 10 Oktober 2008

Hebatnya Krisis Keuangan di AS saat ini

Dikutip dari jawapos

Kalau Langit Masih Kurang Tinggi

Oleh: Dahlan Iskan

Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta
saya ''menceritakan' ' secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan
di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang
sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:

Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus
berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba
sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap
tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan
direkturnya.

Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau
tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang
mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya
harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.

Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu
orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek
perusahaan mereka.

Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau
para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih
tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.

Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin
jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen)
yang kian banyak.

Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana
dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau
cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi
cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal,
hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya.

Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa
tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang
bisa untung, tapi kadang bisa rugi?

Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target.
Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya.
Mengapa? Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO.
Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung
sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus
yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih
besar dari gaji Presiden George Bush . Mana bisa dengan gaji sebesar
itu masih stres?

Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian
seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa
untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan,
harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin
jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja
jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak
dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya
hostile take over.

Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi
untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa
mendapat jalan.

Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para
direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar
setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus
naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar.
Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana .

Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan
kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli
kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan
kerasnya. Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin
maju lagi.

Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau
tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau
Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa
menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya
cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2 triliun!

Sudah lebih dari 60 tahun cara ''membesarkan' ' perusahaan seperti
itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi
kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi
penguasa dunia.

Tapi, itu belum cukup.

Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap
tidak cukup lagi: harus computerized!

Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus
meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah
sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga
belum cukup.

Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi
perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus
meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan
dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah,
harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah.
Demikian juga mobilnya.

Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan
beli rumah?

Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa
lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar?
Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana
bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana
perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya,
semua perusahaan harus semakin besar?

Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada
1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut '' Deregulasi Kontrol
Moneter ''. Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat
diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh
mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara
pasti. Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.

Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan,
asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang
dimanfaatkan perbankan secara nyata.

Begini ceritanya:

Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam
undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan
memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja
seperti KPR, meski tidak sama).

Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh
ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan
bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan
bunga 6 persen setahun.

Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage.
Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan
properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat
dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.

Dengan keluarnya ''jalan baru'' pada 1980 itu, terbuka peluang untuk
menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup.
Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif.
Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.

Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan.
Maka, ada lagi ''jalan baru'' yang dibuat pemerintah enam tahun
kemudian. Yakni, tahun 1986.

Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu
isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga
berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya
rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam
fasilitas itu.

Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan
yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti
di Swedia atau Denmark , gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen.
Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan
gratis. Hari tua juga terjamin.

Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat
drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun
berikutnya.
Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar
setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-
tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD
700 miliar setahun.

Kata ''mortgage'' berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis.
Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah.
Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah.
Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh
menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.

Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet,
rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar
bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak
membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda
harus langsung pergi dari rumah tersebut.

Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti
Lehman Brothers?

Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya
karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh
''para pelaku bisnis keuangan'' sebagai peluang untuk membesarkan
perusahaan dan meningkatkan laba.

Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas
mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli
rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.

Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para
pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi
untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli
rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya
terus naik.
Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar , bank masih untung.
Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.

Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam
undang-undang perbankan yang keras.

Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.

Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ''bank
jenis lain'' yang disebut investment banking.

Apakah investment banking itu bank?

Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ''hanya mirip'' bank. Ia lebih
bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat
banyak hal: menerima macam-macam ''deposito'' dari para pemilik
uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli
saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private
placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa
melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan! Lehman Brothers,
Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.

Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi
pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan
dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam
kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment
banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang
dengan istilah ''personal banking''.

Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu
yang menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di
sana , saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit.
Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih
itu.

Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu
saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau
menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada
dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk
memutar cash-flow.

Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu
hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage,
yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta
mortgage.

Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan
oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup
seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke
atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik
atau
turun.

Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah
lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600.
Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus
melakukan penghematan pengeluaran.

Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian
tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500
sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar , rumah itu bisa
disita. Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi
dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.

Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu
kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit.
Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah.
Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun
harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai
pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar .

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula
menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang
lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi
itu menjaminkan ke yang beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang
lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu
roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.

Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu?
Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5
triliun dolar. Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana
APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana
itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar
lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?

Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau
menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan
sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh
bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.

Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah
dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak
perusahaan dan orang Indonesia yang ''menabung'' - kan uangnya di
lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan
itu.

Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya
tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya
pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.

Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu
menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan
dunia.
Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan
sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang
tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana . Kita, setidaknya,
masih bisa menanam jagung.(*)

Kamis, 02 Oktober 2008

UNTUK PENGOBATAN; Warga Berendam di Selokan Air Panas

27/08/2008 09:25:37

BANTUL (KR)- Di selokan tengah bulak sebelah selatan pedukuhan Rogocolo Tirtonirmolo Kasihan Bantul akhir-akhir ini banyak didatangi warga untuk melakukan pengobatan alami dengan cara merendam kaki atau tubuh di aliran air panas yang keluar dari PG Madukismo. Mereka selain dari warga sekitar lokasi, ada pula yang datang dari kota Yogyakarta atau luar Bantul. Bahkan Senin (25/8) sekitar 90 warga ada yang berendam kaki hingga tengah malam.
Menurut penuturan mereka, awal fenomena pengobatan dengan merendam kaki di aliran air panas ini dimulai sekitar 3 pekan lalu. Semula ada orang mengaku warga Klaten menemui petani yang sedang menggarap sawah di lokasi menanyakan aliran air panas yang keluar dari pabrik. Setelah ditunjukkan, warga Klaten tersebut langsung merendamkan tubuhnya di aliran panas tersebut dan berulang beberapa hari. Orang yang mengaku warga Klaten itu ternyata sakit rematik, setelah berendam beberapa hari sakitnya sembut. Akhirnya warga sekitar mengetahui fenomena tersebut kemudian ikut-ikutan berendam di aliran air panas yang keluar dari PG Madukismo.
Usia mereka pada umumnya sudah di atas 50 tahun ke atas yang sakit rematik atau struk, tetapi ada pula yang masih usia dibawah 50 tahun karena mempunyai penyakit gatal-gatal pada kaki. Yang datang berendam pada umumnya mengidap penyakit reomatik, struk, gatal-gatal dan sejenisnya. Waktu berendam mulai pagi sesudah subuh hingga siang ketika sinar matahari sudah terasa panas. Sore harinya mulai pukul 16.00 atau sesudah Azar hingga malam hari.
Tetapi ada pula yang datang pukul 19.00 dan selesai berendam pada tengah malam.
Muji dan Sudiyanto warga Tirtonirmolo dekat dengan lokasi ditemui wartawan mengatakan, mereka baru tahu beberapa hari lalu kalau di selokan tengah bulak Rogocolo banyak orang berendam di air panas untuk penyembuhan penyakit. Kemudian mereka ikut-ikutan merendam kaki di selokan itu. Mereka mengaku kakinya sering kejang, tetapi setelah beberapa hari berendam kini sakitnya banyak berkurang.
Sementara Kasi Umum PG Madukismo Drs Sulistiyo yang datang ke lokasi untuk menyaksikan fenomena baru cara pengobatan alternatif tanpa mengeluarkan beaya ini mengatakan, secara logika pengobatan alternatif dengan pemanfaatan alam ini ada benarnya. Karena berendam kaki dengan air hangat akan melancarkan peredaran darah, kemudian air panas yang keluar dari PG Madukismo mengandung sulfur atau belerang sehingga wajar jika bisa menyembuhkan sakit gatal-gatal atau penyakit kulit lainnya. (Jdm)-d


Sumber Foto : http://detikfoto.com

Minggu, 29 Juni 2008

Inovasi Bukan Menjadi Seperti

Selasa, 17/06/2008 10:06
Inovasi Bukan Menjadi Seperti
Datang dua orang bertemu dengan kami, menawarkan sebuah konsep produk. Berkali-kali mereka menyampaikan bahwa ini inovasi baru, belum pernah ada di Indonesia. Dia yakin bahwa "barangnya" akan laris dan akan menggoyang pasar.

Dari cara menyajikan presentasinya, mengagumkan. Intonasinya terjaga. Bahasa tubuhnya bermakna. Bahasa asingnya fasih. Inovasi ini-- begitu mereka menyebut-- sudah dilakukan pengujian dengan masak, dan sempurna.

Setelah presentasi sang tamu tersebut, seluruh tim akuisisi produk kami menyatakan tertarik. Barangnya menarik dan bagus, begitulah penilaian buat sang "penjual ide" tersebut. Namun seorang diantara kami meminta agar keputusan akuisisi produk tidak dilakukan saat itu juga tapi ditunda.

Akhirnya, produk XYZ tersebut sepakat menjadi kandidat kuat untuk diakuisisi. Untuk itu, diperlukan presentasi lanjutan sebagai bagian dari rekonfirmasi atas penawarannya. Dan, ditentukanlah hari H untuk presentasi lanjutan.Dalam proses presentasi kedua yang dimaksudkan untuk rekonfirmasi tersebut, dari banyak yang kami tanyakan, hampir selalu jawabannya begini: "ini seperti barang itu loh, yang di AS, di Euro, dan lain-lain".

Rupanya di sini kami menjadi berpikir ulang. Sang inovator di sini tak lain hanya karena tahu produk lebih dulu saja tapi tidak ada sesuatu yang baru yang beda dari produk yang ada. Karena itu dalam presentasinya, mereka dengan terpaksa menunjukkan bahwa produknya sudah ada di tempat lain, dan dia menginovasinya untuk kawasan yang lebih sempit. Di era komunikasi yang sudah modern, dimana kejadian atau produk di daerah terpencil sekalipun dengan mudah tereksploitasi mendunia. Maka hati-hati menyatakan diri sebagai inovator. Sebab, klaim yang keblinger bisa bikin blunder. Inovasi yang disampaikan, bisa jadi bukan apa-apa kecuali penyesuaian. Atau bisa jadi merupakan "cut and paste" besar-besaran. Sebab, inovasi mestinya bukan sekadar membuat barang menjadi seperti yang telah ada.

Timbul perdebatan, bahwa tidak ada inovasi yang orosinal. Mestinya ada, misalnya George Graham Bell yang menemukan telepon atau Thomas Alfa Edison penemu lampu listrik (pijar). Mungkin bisa saja ditolak pendapat ini, karena itu masa lampau. Namun faktanya selalu ada saja penemuan baru yang tidak ada sebelumnya. Misalnya bagaimana i-Pod yang pertama begitu inspiratif dan inovatif dimana orang bisa menyalakan MP3 dan memilih lagu tanpa menekan tombol hanya menggeser-gesernya. Dan dengan mudah memilih lagu lain sampai pada kedalaman struktur tree yang simple.

Di dunia online, misalnya, untuk menyatakan inovator apalagi inventor juga mesti hati-hati. Google misalnya, bisa jadi bukan inovator search engine karena sebelumnya sudah ada Yahoo ataupun AltaVista. Tapi begitu Google mengeluarkan map dan GoogleEarth, banyak mata terbelalak menyaksikan -- sekaligus merasakan -- barang baru yang belum ada sebelumnya. Lalu, kita berebut menandai beberapa "landmark" kita mulai dari tempat tinggal, tempat kerja, nongkrong, dan sebagainya.

Jadi, kalau kita baru bisa membuat bakso isi telor burung onta misalnya, sebenarnya lebih pas disebut memperkaya produk ketimbang sebagai sebuah inovatif. Dan, kalau misalnya kita bisa membuat software/aplikasi/konten baru ternyata tak lain seperti SAP, Oracle, YouTube, FaceBook misalnya, itu berarti kita tak lain masih dalam taraf "menjadi seperti" mereka. Kita belum setara.

Kalau masih sama dengan temuan/karya orang lain, jangan-jangan sebenarnya kita sekadar mengaguminya belaka namun tak mau terang-terangan mengakui sebagai pengagumnya. Mungkin dalam dunia seni lebih jujur. Tak ragu misalnya, para komponis mengakui bahwa lagu ciptaannya seperti lagunya Beatles, Coldplay, Rolling Stone, Deep Purple, dan lain-lain. Jadi mengagumi lalu menciptakan sendiri yang masih seperti, itu memang kreasi, tapi belum cukup sebagai inovasi. (Sapto Anggoro)
Source

Selasa, 09 Oktober 2007

INDAHNYA BERBAGI

Pada suatu kesempatan saya bersama kawan-kawan pergi untuk mendaki gunung,dan saat suasana tidak mendukung, kami kehabisan perbekelan, dengan keadaan perut lapar, kami bertemu dengan tim pendaki gunung lainnya, dan kami berjalan beriringan, kami menceritakan bahwa kami kehabisan perbekalan, dan dengan kemurahan hati tim pendaki gunung lainnya bebagi perbekalan, kami membuka bekal dan makan bersama, dan suasana pun menjadi akrab. Sangat indah bila kita berbagi

Mungkin contoh yang saya tuliskan hanyalah salah satu contoh tentang indahnya berbagi, berbagi dalam hal ini kita bisa berbagi itu tidak hanya berbagi materi. Seperti contoh ketika ada anak baru dalam lingkungan kantor, saya dengan ikhlas berbagi pengetahuan tentang apa yang harus dikerjakan, dan anak tersebut dapat bekerja dengan baik, malah anak tersebut sering membantu beberapa tugas saya.

Atau berbagi informasi, ketika saya baru lulus kuliah, allhamdulillah saya pun tidak mengalami masa menganggur, ketika pertama kali bekerja, saya berbagi informasi lowongan pekerjaan kepada sahabat saya, dan beberapa sahabat saya berhasil bekerja ditempat saya, dan kami pun menjadi partner.

Dalam hal berbagi, jangan takut apa yang kita miliki akan cepat habis, percaya atau tidak sesuatu yang kita bagi dengan orang yang membutuhkan akan membuat sesuatu yang kita punya akan bertambah, missal kita memiliki ilmu, ketika kita berbagai, kita mengajaari seseorang dengan ilmu yang kita miliki, ilmu yang kita miliki akan bertambah, kita akan tembah mengerti dengan ilmu tersebut.

Ketika kita berbagi informasi, pada suatu saat sahabat yang kita beri informasi secara tidak langsung mungkin akan membalas memberi informasi, jadi semakin kita berbagi semakin banyak yang akan kita dapati.

Dalam agama kita pun diwajibkan untuk berbagi, dengan mengeluarkan zakat, sedekah dan lainya, untuk berdasarkan perintah tuhan, jika kita memberi sedekah atau zakat kita akan dikembalikan dalam jumlah berkali-kali lipat. Tapi pengembalian dari zakat yang diberi tidak selalu instant dan tidak dalam bentuk uang tunai. Tetapi bisa suatu rezeki yang sangat tidak ternilai.

Saat ini kita sering susah dalam berbagi, kita takut harta kita habis, padahal ketakutan-ketakuan tersaebuat tidak benar. Hal tersebut disebabkan ketamakan kita terhdap harta, informasi, atau sesuatu yang bisa kita bagi.

Mari kita mulai berbagi, bersama dengan sahabat kita, tetangga kita, tema kita, orang yang membutuhkan, saat ini banyak orang yang membutuhkan bantuan kita tidak hanya materi, ilmu pengethuan, informasi dan apa-pun yang bisa kita beri.

"Dengan memberi berupa 1x anda akan mendapatkan masukan sebesar 10x, jadi mari kita berbagi dengan sesama"

"Memberi dengan ikhlas akan membuka rizki yang berlimpah "

Dalam Perenunganku, Ingin Berbagi untuk sahabat


ICHSAN SANTOSO
(disadur dari berbagai sumber dg copy dan paste)