Tampilkan postingan dengan label SAMPAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAMPAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Maret 2010

Sampah Bantar Gebang Akan Jadi Listrik

Sampah Bantar Gebang 


JAKARTA, KOMPAS.com — Timbunan sampah di Tempat Pemusnahan Sampah Terpadu Bantar Gebang atau TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, akan segera diubah menjadi sumber energi. Di lokasi itu akan didirikan pembangkit listrik baru bertenaga sampah atau PLTS.

PLTS rencananya akan dikembangkan untuk menghasilkan tenaga listrik 26 MW. Sampah memang tidak beperan langsung menghasilkan listrik, tetapi diproses dulu untuk menghasilkan gas metan yang akan diubah menjadi energi listrik.

Mula-mula, sampah-sampah dari TPST Bantar Gebang dikumpulkan dan diolah melalui sebuah proses pengolahan yang disebut control and sanitary landfill, yakni proses penguraian, penutupan, dan pemanasan sampah untuk menghasilkan gas metan.

Minggu, 18 Januari 2009

Mikroba "Tenaga Kerja" Bioplastik

 
Seorang pemulung mengayuh perahunya di lautan sampah plastik di pintu air Penjaringan, Jakarta, Minggu (5/10). 
Sampah itu kebanyakan berupa kantong plastik dan styrofoam yang sulit membusuk. 
Gaya hidup konsumtif dan serba praktis meningkatkan secara tajam penggunaan plastik.
 
 
Jumat, 9 Januari 2009 | 08:28 WIB
oleh Nawa Tunggal

Mikroba adalah jasad renik yang sangat beragam jenisnya dan memiliki fungsi sebagai pengurai. Kini salah satu jenisnya telah diubah menjadi ”tenaga kerja” untuk memproduksi bioplastik oleh Khaswar Syamsu. Ia seorang perekayasa dari Institut Pertanian Bogor yang berhasil merekayasa pembuatan plastik terbuat dari bahan pati sagu dan lemak sawit sehingga menjadi plastik ramah lingkungan atau bioplastik.
”Mikroba itu tenaga kerja yang tidak pernah menunggu perintah dan tidak pernah demo,” ujar Khaswar, Kamis (8/1) di laboratoriumnya yang berisi perlengkapan-perlengkapan yang usianya tergolong tua.
Perlengkapan tua itu termasuk bioreaktor buatan Jerman yang dibeli 23 tahun silam atau pada 1986. Bioreaktor itu telah menemani Khaswar setidaknya ketika memulai riset produksi bioplastik sejak tahun 2000 hingga 2006 ketika ia berhasil menemukan metode pembuatan bioplastik dan mendaftarkan patennya.
Sedikitnya ada tujuh uji coba bioplatik yang dilaksanakan. Uji coba itu meliputi kekuatan tarik, elastisitas, perpanjangan putus, sifat termal, derajat kristalinitas, gugus fungsi dalam struktur kimia, dan biodegradabilitas atau keteruraiannya.

Uji coba yang terakhir mengenai keteruraiannya ini, bioplastik hasil rekayasa Khaswar dapat terurai atau termakan mikroba dalam waktu 80 hari.
”Dibandingkan dengan bahan organik lainnya, seperti kertas, laju terurai pada bioplastik ini lebih cepat,” ujar Khaswar.

Menimbun plastik
Khaswar mengutip sebuah referensi yang menunjukkan fenomena yang berlangsung saat ini berupa timbunan plastik sebagai salah satu produk utama sampah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia. Padahal, sampah plastik itu tidak akan terurai dan akan merusak lapisan tanah.

”Pada 2003 kebutuhan plastik di Indonesia mencapai 1,35 juta ton per tahun. Setelah menjadi sampah, pemerintah hanya mampu mengelola 20-30 persennya. Selebihnya ditimbun ke area pembuangan sampah,” katanya yang kini menjabat Kepala Divisi Rekayasa Bioproses dan Bahan Baru pada Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi IPB.

Pada 2000 dan 2001, Khaswar menggunakan dana riset dari program Riset Hibah Bersaing Direktorat Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Dana riset Rp 29,9 juta per tahun.
Kemudian dilanjutkan pada 2005 dan 2006 menggunakan dana riset dari program Riset Unggulan Terpadu Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Dana riset setiap tahun Rp 97 juta dan Rp 93 juta. Dari kegiatan riset selama empat tahun itulah lalu dihasilkan bioplastik.

Menurut dia, harga produksi bioplastik ini antara lima sampai tujuh kali harga pembuatan plastik konvensional yang terbuat dari bahan berbasis petrokimia atau minyak bumi.

”Negara Korea saat ini berhasil menyimulasikan produksi bioplastik hanya dengan biaya tiga kali biaya pembuatan plastik berbasis petrokimia. Ketika bahan petrokimia yang terbatas dan tidak teruraikan itu ke depan makin mahal, produksi bioplastik akan makin murah dan yang lebih penting ramah lingkungan,” ujar Khaswar.

Mikroba impor
Mikroba yang disebut-sebut Khaswar sebagai tenaga kerja bioplastik, yang bekerja dengan tidak pernah menunggu perintah dan tidak pernah mendemo, adalah Ralstonia eutropha impor dari Jepang.
”Sebetulnya, mikroba itu juga ada di dalam tanah di mana pun di Indonesia ini. Namun, di Indonesia tidak ada badan nasional yang secara khusus menangani masalah pemetaan dan pengoleksian mikroba seperti di Jepang,” kata Khaswar.

Secara terpisah, Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan pada Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puspita Lisdiyanti mengatakan, keberadaan badan nasional yang secara khusus menangani pemetaan dan pengoleksian berbagai mikroba di Indonesia belum dirintis.

”Saat ini para peneliti atau perekayasa yang membiakkan mikroba itu hanya menggunakannya demi kepentingan masing-masing. Semestinya, memang ada badan nasional yang secara khusus menangani koleksi mikroba dan pemanfaatannya untuk kepentingan bersama,” kata Puspita.

Pada era ke depan, menurut Puspita, bidang mikroorganisme ini memiliki peranan sangat penting untuk menunjang kehidupan yang berkelanjutan. Mikroba terbukti dapat menciptakan bahan bioplastik sekaligus akan mengurainya kembali. Dengan rantai ini, keseimbangan alam tercipta

Nawa Tunggal
http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/09/08283719/mikroba.tenaga.kerja.bioplastik

Minggu, 09 November 2008

Plastik Ramah Lingkungan dari Kelapa Sawit

Pengepul sampah plastik di Jalan Citarum, Cideng, Jakarta Pusat, Harto, memilah botol plastik yang dibelinya seharga Rp 1.000 per kilogram dari pemulung, Rabu (27/2). Sampah plastik tersebut kemudian dijual ke pabrik pengolah plastik untuk didaur ulang. Mereka secara tidak langsung ikut membantu pemerintah dalam menangani masalah sampah.

 

Kompas, Jumat, 22 Agustus 2008 | 20:33 WIB

MEDAN, JUMAT - Peneliti Universitas Sumatera Utara, Basuki Wirjosentono, mengenalkan plastik ramah berbahan hasil samping minyak sawit mentah. Plastik yang selama ini beredar di masyarkat masih memakai zat kimia yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia. Hasil samping sawit terbukti aman dari gangguan itu.

"Hasil samping ini sebagai pelunak plastik. Bahannya banyak terdapat di sekitar kita. Pemanfaatan hasil samping minyak sawit ini sekaligus bisa meningkatkan nilai jualnya," kata Basuki Wirjosentono di Kampus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Jumat (22/8).

Gliserol menjadi bahan pengganti dioktil ftalat atau dalam istilah kimia dikenal dengan DOP. Bahan ini bagus bereaksi dan murah harganya. Sayangnnya, zat kimia ini bersifat racun penyebab kanker pada manusia. DOP dan glicerol sama-sama bisa menjadi bahan pelunak plastik. Namun gliserol lebih aman bagi kesehatan dan tidak mengandung racun.   

Dalam penelitiannya, Basuki mengubah gliserol menjadi poli gliserol agar zat ini menjadi lebih kental. Selanjutnya dia mengubahnya lagi menjadi poligliserol asetat agar senyawa ini bisa bercampur baik dengan plastik. Dia mulai melakukan penelitian ini lima tahun lalu.

Sementara ini hasil penelitiannya belum dimanfaatkan secara komersial. Di sejumlah forum internasional, Basuki sudah mengenalkannya. Produksi alat pelunak plastik ini masih dalam skala laboratorium dalam jumlah liter.

Kamis, 22 Mei 2008

Global Warming

LET'S WE ALL DO THAT

BEFORE IT'S TOO LATE


PLEASE HELP TO DECREASE GLOBAL WARMING...!!!

1. Melepas stop-kontak perangkat listrik walaupun ketika alat elektronik itu dimatikan = menghemat 40-50% daya listrik. Selain menghemat bayar listrik, itu berarti pula, mengurangi panas yang timbul dari alat elektronik yang merembet ke pemanasan global.


2.
Kantong plastik butuh waktu 1.000 tahun untuk terurai di TPA(Tempat Pembuangan Akhir) wow!!!. Sekitar 300 juta buah kantong plastik dibuang tiap tahunnya di TPA di Indonesia. Belum lagi yang dibuang di sungai-sungai dan tempat-tempat yang tidak semestinya.

3. Ketika kamu membeli 1 liter air mineral di supermarket = beli 5 liter air. Tanya kenapa...? Karena di pabrik, untuk mendinginkan botol plastik panas yang baru dicetak, membutuhkan 5 liter air... ck.. ck.. cck..

Kode botol apa yang aman digunakan sebagai botol air ? Lihat tanda di bagian bawah botol itu... tuuuh yang ada gambar SEGITIGA recycle, nah di dalam segitiga itu ada nomornya, cari yang nomor 2, 3 atau 4... selain nomor-nomor itu... THEY'RE NOT SAFE, artinya sama aja kita makan sampah plastik...!!! Nomor itu menunjukkan BERAPA KALI botol plastik itu sudah di recycle. (ayo cek... botol atau cangkirnya masing2)


4. 10 kg kertas koran yang siap di jual loakan... itu membutuhkan 1 pohon yang butuh waktu 10 tahun untuk jadi besar.
Bayangkan yang terjadi dengan ilegal logging... how many trees has been cut down for you ? Imagine how they make the world hotter ? Jadi, pakai kertas di kedua sisinya, yah, karena toh kita agak nggak mungkin untuk
berhenti pakai kertas.
(sepertinya harus segera di galakkan di kampus hijau kita nih.. )..

5. Tisue yang sudah di pakai itu ngga bisa di recycle... begitu juga karton-karton bekas yang kena minyak, makanan, kue, minuman... They're only a waste...! Mau tidak mau tanahlah yang harus me-recycle. Perkiraan orang memakai tisue 6 lembar sehari or 2.200 lembar setahun. Berarti kira-kira 44 MILIAR lembar seluruh Indonesia setahun... Kalau kita menghemat 1 lembar aja tiap hari... berarti kita mengurangi sampah kertas sebanyak 7 MILIAR biji setahun... HEBAT KAN...? Kalau memungkinkan, bawa sapu-tangan aja kemana-mana. ( ayo cewek2.... jangan beli tisue lagi..)

6. Be Green on ATM... kalau di ATM kan ada yang ambil uang tidak pakai receipt... atau be smart dong... transfer lewat Internet banking atau mobile banking.... 8 MILIAR kali transaksi di ATM yang mengeluarkan kertas receipt tiap tahun adalah salah satu sumber sampah terbesar di dunia. Kalau selama setahun orang transaksi tidak pakai kertas receipt, itu akan menghemat satu roll besar kertas yang bisa buat melingkari garis equator sampe 15 kali...! (kebayang ga seeehhh)

7. Minimal punya 2 macam tempat sampah di rumah, membantu mengurangi polusi air, udara dan tanah. Pisahkan sampah basah (sisa makanan dan masakan, daun, minuman) dan sampah kering ( botol, plastik, kertas, kaca) Lebih baik lagi untuk memisahkan sampah menurut 4 kelas :

- PLASTIK (pembungkus makanan, kantong kresek, kantong belanjaan)
- RUMAH TANGGA (tulang ayam, sisa capcay, makanan basi)
- KERTAS (pembungkus gorengan, popok bayi, tisue yang sudah dipakai)
- Buku bekas catatan, kertas nota tagihan, koran, kertas iklan... dipisahkan untuk DIJUAL !

- LOGAM & KACA (kaleng susu, kaleng makanan)


Hanya butuh waktu 2 bulan untuk menjadikan sampah rumah tangga menjadi kompos yang bisa dipakai lagi untuk pupuk tanaman...

Polar bear (Beruang kutub) yang lucu itu nggak bisa berenang... tapi karena global warming di Kutub Utara maka mereka harus berenang 30 km untuk mencari es tempat berteduh... kasihan sekali !

Watch DISCOVERY CHANNEL : PLANET EARTH... pasti nangis deh melihat perjuangan seekor beruang kutub yang akhirnya mati karena kelelahan mencari daratan.

Is this the world you will leave for your children...?

Save the world, save our lifes, save our children...!

Regards,

Abdi Setya Pama, ST

HSE Dept.

PT Perkasa Inakakerta coal Project,

Bengalon Site - East Kalimantan

www.bayan.com.sg

Phone : +62-541 878669/ 670

Mobile : +62-819 77799880

+62-813 68973669


Senin, 19 Mei 2008

Sampah Elektronik di Indonesia Tak Terpantau

Rabu, 7 Mei 2008 21:15 WIB
JAKARTA, RABU - Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH), mengaku masih kesulitan untuk mendapatkan data jumlah sampah elektronik (e-waste) yang mengandung bahan beracun berbahaya (B3), baik domestik maupun kiriman dari luar negeri."Seminar KLH tahun 2006 yang membahas limbah elektronik belum juga bisa mengeluarkan berapa sebenarnya angka e-waste di Indonesia," kata Asisten Deputi (Asdep) urusan B3 dan Limbah B3 KLH, Emma Rahmawati, di Jakarta, Rabu (7/5). Ia berpendapat, kesulitan KLH mendata limbah elektronik banyak diakibatkan faktor perdagangan ilegal dan sebaran pengepul e-waste yang sangat beragam di seluruh Indonesia.Meski masih "remang-remang", Emma dapat memperkirakan besarnya limbah elektronik di Indonesia akan terus meningkat setiap tahunnya, setidaknya dari industri telepon seluler. Di Indonesia setidaknya terdapat 100 juta telepon seluler, dan muatan perangkat elektronik itu antara lain tembaga dan bahan-bahan yang masuk dalam kategori B3.Sementara itu menurut data UNEP 2005, tiap tahunnya e-waste yang diproduksi di seluruh dunia mencapai 20-50 juta ton. Ratusan ribu komputer usang dan HP rusak dibuang begitu saja di tanah lapang, sebagian lain juga dibakar di insenerator, atau diproses ulang di pabrik tembaga.
Dari data para produsen barang elektronik, didapati bahwa angka daur ulang oleh mereka sangatlah rendah. Para produsen perangkat keras komputer (PC) hanya melakukan 8,8-12,4 persen daur ulang. Sedangkan tingkat daur ulang produsen HP lebih rendah lagi, yakni hanya sekitar 2-3 persen.

Sumber : Antara

Source