Tampilkan postingan dengan label Pemanasan Global. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemanasan Global. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Mei 2010

Cuaca Panas Karena Matahari Bergeser


Jakarta (ANTARA News) - Cuaca panas yang terasa mulai Maret hingga memuncak pada Mei ini di sejumlah daerah di Indonesia disebabkan oleh bergesernya posisi matahari dari selatan ke utara, kata pakar astronomi.

"Pola pemanasan berubah. Wilayah paling panas ada di sekitar khatulistiwa, di Indonesia. Angin cenderung berputar di sekitar wiliayah Indonesia. Tidak ada efek pendinginan dari wilayah lain," kata pakar astronimi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin yang dikonfirmasi dari Jakarta, Senin.

Dampak dari kondisi itu lah yang menyebabkan meningkatnya suhu udah di sejumlah wilayah di Indonesia belakangan ini.

Rabu, 14 April 2010

Hidrologi Gambut Harus Dipulihkan

Rabu, 14 April 2010 | 04:39 WIB
Jakarta, Kompas - Restorasi hidrologi lahan gambut lokasi megaproyek lahan 1 juta hektar di Provinsi Kalimantan Tengah jadi kunci keberhasilan pemenuhan target penurunan emisi karbon 26 persen 2020.
Jika kanal eks proyek lahan gambut dibendung dan lahan gambut tetap basah selama 2010-2020, emisi karbon Indonesia akan berkurang sekitar 250 juta ton. Hal itu disampaikan Direktur Wetland International Indonesia Nyoman Suryadiputra selaku pembicara dalam seminar Post Copenhagen expectation, How to Meet Indonesia’s Commitment di Jakarta, Selasa (13/4). Reboisasi, menurut dia, butuh waktu sebelum pohon bisa menyerap karbon.
Megaproyek di Provinsi Kalimantan Tengah ialah proyek gagal pembuatan sawah pada lahan gambut seluas 1,457 juta hektar di akhir masa pemerintahan Soeharto. Hanya sekitar 300.000 hektar lahan bisa ditanami.
Proyek itu menghancurkan lingkungan dan meningkatkan risiko bencana kebakaran lahan gambut. Tanpa terbakar, lahan gambut telah melepas emisi karbon dalam jumlah besar. Jumlah itu semakin berlipat jika lahan gambut terbakar. Pelepasan karbon dari lahan gambut menambah tebal gas rumah kaca yang meningkatkan temperatur bumi.

Selasa, 13 April 2010

Membangun "Eco City" di Indonesia, Masih Mungkinkah?


KOMPAS.com — Ada yang masih mengingat, bagaimana wajah Jakarta pada tahun 1980-an? Melihat foto-foto gambaran Jakarta pada tahun-tahun itu, kota tersebut begitu indah. Kini? Jakarta semakin padat, dengan polusi udara yang juga memprihatinkan. Mungkinkah Jakarta dibuat menjadi eco city? Bagaimana dengan kota-kota lainnya?

Eco city merupakan konsep kota yang hijau, sehat, dan bersahabat dengan lingkungan. Konsep ini menekankan adanya ketergantungan fisik dari masyarakat pada kondisi lingkungan.

600 Tahun Silam, Ulama Mendaur Ulang Jelaga untuk Tinta



BOGOR, KOMPAS.com — Sebanyak 250 ulama dari 14 negara menghadiri Konferensi Internasional I Aksi Umat Islam untuk Perubahan Iklim di Kota Bogor, Jumat (9/4/2010) hingga Sabtu (10/4/2010).

Mereka memantapkan akar-akar teologis soal kepedulian Islam terhadap lingkungan hidup. Mahmoud Akef, pendiri Earth Mate Dialog Center yang berbasis di London, Inggris, mengatakan, masalah lingkungan hidup banyak dibahas dalam Al Quran. Begitu juga dalam keseharian Nabi Muhammad, beliau banyak berbicara tentang perlunya menjaga lingkungan.

Ia mencontohkan tindakan para ulama 600 tahun silam di Masjid Solaimania di Istambul, Turki. Pada saat itu, prinsip mendaur ulang pun sudah dikenal. Mereka, yang saat itu menggunakan penerangan dari minyak/lilin, menangkap asap hitamnya sehingga tidak mengotori udara. "Jelaga yang terkumpul didaur ulang menjadi tinta," katanya.

Emil Salim, anggota Dewan Penasehat Presiden RI, seusai menjadi salah satu pembicara di konferensi tersebut, bercerita mengenai penyebab merosotnya peradaban Islam.

Jumat, 12 Maret 2010

Obama ke Indonesia Bahas Perubahan Iklim

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam kunjungannya ke Indonesia yang dijadwalkan pertengahan Maret ini, menyiapkan lima agenda pertemuan, salah satunya mengenai perubahan iklim.

"Item kelima dari lima agenda yang dibawa Obama adalah mengenai perubahan iklim," kata Staf Khusus Presiden RI untuk perubahan iklim, Agus Purnomo, yang ditemui di kantor Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) di Jakarta, Senin.

Obama akan melakukan pertemuan komprehensif yang membahas beberapa elemen antara lain mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang perubahan iklim.

"Dengan berbagai kegiatan yang dikerjakan untuk peningkatan kapasitas dalam hal ilmu pengetahuan dan perubahan iklim," kata Agus.

Senin, 22 Juni 2009

Mungkinkah Tanda-tanda Kiamat Itu Sudah Terlihat?

 
Foto satelit di samping menunjukkan pengurangan drastis es di puncak Gunung Kilimanjaro, Tanzania. Foto yang dikeluarkan Program Lingkungan PBB (UNEP) ini diambil tahun 1976 (atas) dan tahun 2006 (bawah). UNEP pada 10 Juni 2008 menerbitkan atlas yang memuat foto-foto yang menunjukkan perubahan drastis akibat pemanasan global di semua negara Afrika. Atlas tersebut membuat banyak pihak terperanjat.

Minggu, 21 Juni 2009 | 16:49 WIB

MEDAN, KOMPAS.com - Perubahan iklim yang terjadi dewasa ini membuat negara-negara di belahan dunia ini termasuk juga Indonesia sangat rentan terhadap bencana, Kelaparan, kemiskinan dan penyakit.

Kepala Bidang Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Negara Lingkungan Hidup Indonesia, Dadang Hilman, MA mengungkapkan hal itu dalam suatu seminar di Medan, Minggu (21/6).

Mengutip sebuah laporan, ia mengatakan, Indonesia salah satu negara yang rentan terhadap bencana yang terkait dengan perubahan iklim seperti halnya pemanasan global.

Kemungkinan pemanasan global itu akan menimbulkan kekeringan dan curah hujan ekstrim yang pada gilirannya akan menimbulkan resiko bencana iklim yang lebih besar pada berbagai belahan dunia.

"Di Indonesia selama periode 2003-2005 terjadi 1.429 bencana. Sekitar 53,3 persen adalah bencana terkait dengan hidro-meteorologi. Banjir adalah bencana yang sering terjadi atau sebanyak 34 persen dan diikuti bencana longsor sebanyak 16 persen," katanya.

Pada seminar Nasional Lingkungan Hidup dengan tema Pelestarian Lingkungan Dalam Upaya Mengurangi Dampak Pemanasan Global di Universitas Negeri Medan (Unimed) itu, ia mengatakan, pemanasan global ditandai dengan meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi.

Hal tersebut sebagai akibat peristiwa efek rumah kaca yaitu terperangkapnya radiasi matahari yang seharusnya dipancarkan kembali ke angkasa luar namun tertahan oleh lapisan akumulasi Gas Rumah Kaca di atmosfer.

Berbagai tindakan aktif untuk mencegah terjadinya perubahan iklim dan mengurangi dampak pemanasan global dapat dilakukan dengan upaya penurunan emisi GRK.

Selain itu juga telah dilakukan berbagai kebijakan seperti di bidang kehutanan dengan penanggulangan illegal logging, rehabilitasi hutan dan lahan, serta konservasi, restrukturisasi sektor kehutanan, pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan, penanggulangan dan pencegahan kebakaran hutan dan sebagainya.

Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan Bank Dunia pada 2006, disebutkan bahwa kerugian global akibat perubahan iklim diperkirakan akan mencapai 4,3 triliun dolar.

"Kerugian ini akan menjadi tanggungan negara-negara berkembang dan miskin yang relatif memiliki keterbatasan adaptif akibat keterbatasan modal dan teknologi," katanya.

BNJ
Sumber : Ant

Kamis, 12 Maret 2009

Limbah Tambang Terus Cemari Lautan

Isu Pemanasan Global Bisa Menyesatkan
 Ikan yang mati akibat perairan tercemar
Rabu, 11 Maret 2009 | 09:34 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Nawa Tunggal

JAKARTA, KOMPAS.com — Menjelang penyelenggaraan Konferensi Kelautan Dunia pada 11-15 Mei 2009 di Manado, Sulawesi Utara, Indonesia belum menunjukkan konsistensinya menjaga lingkungan kelautan. Aktivitas pertambangan tetap mencemari lautan.

Sedikitnya sampai saat ini masih terdapat 340.000 ton limbah tambang yang terbuang ke laut dan mencemarinya hanya dari dua perusahaan asing terbesar yang beroperasi di wilayah Papua dan Nusa Tenggara Barat.

”Dengan penyelenggaraan WOC (Konferensi Kelautan Dunia), masalah mendasar untuk menjaga lingkungan kelautan dari aspek pencemaran limbah tambang di Indonesia sendiri masih terabaikan. Euforia perubahan iklim membuat tersesat dan menjadikannya sebagai pencarian sumber dana baru atau skema finansial yang baru,” kata Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang Siti Maemunah, Selasa (10/3) di Jakarta.
Menurut Maemunah, substansi perusakan lingkungan kelautan akibat operasional tambang di Indonesia masih ditutupi. Tanpa ketegasan Indonesia, penyelenggaraan WOC diragukan akan mampu menyentuh substansi.

”Utang kerusakan ekologis kelautan oleh kegiatan pertambangan dari negara-negara lain tersebut tidak akan sebanding dengan dana-dana hibah asing untuk program rehabilitasi kelautan kita,” kata Maemunah.

Usulan konkret yang perlu disampaikan, menurut Maemunah, seperti yang pernah dihasilkan dalam Konferensi Internasional Pembuangan Tailing ke Laut di Manado pada 23-30 April 2001. Pada konferensi yang dihadiri delegasi 15 negara tersebut diserukan komitmen untuk menjaga kelestarian kelautan dengan menolak pembuangan limbah tambang sampai ke laut.

”Perusahaan pertambangan selalu menyatakan limbah tambang secara teknis sudah ditangani di darat. Namun, pada kenyataannya laut tetap menjadi tempat sampah bagi pertambangan karena limbah terhanyut oleh air hujan,” kata Maemunah.

Pencemaran dibahas

Secara terpisah, Sekretaris Panitia Nasional WOC Indroyono Soesilo mengatakan, dari 32 sesi simposium pada penyelenggaraan WOC nanti, tentu akan dibahas aspek pencemaran laut dari kegiatan pertambangan.

Akan tetapi, fokus pada tema besar penyelenggaraan WOC akan tetap pada aspek peran dan pengaruh kelautan terhadap perubahan iklim.

”Ada empat hal yang ingin diraih dari penyelenggaraan WOC ini,” kata Indroyono.

Keempat hal tersebut meliputi pembahasan kesepakatan tentang peran kelautan terhadap perubahan iklim global, dampak perubahan iklim global terhadap kelautan, program adaptasi dan mitigasi menghadapi perubahan iklim global, serta menggalang kerja sama internasional untuk mengatasi perubahan iklim global.

”Kesepakatan tersebut yang akan dituangkan ke dalam Manado Ocean Declaration. Kegiatan pertambangan terkait dengan perubahan iklim dan kelautan sehingga masalah ini tetap akan dibahas,” kata Indroyono.

Tambang dihentikan

Sementara itu, Maemunah mengatakan, bulan April 2009 ada kebijakan pemerintah atas desakan berbagai LSM untuk menghentikan kegiatan tiga perusahaan tambang yang mencemari laut di Waigeo, Kepulauan Raja Ampat, Papua. Perairan tersebut dikenal sebagai kawasan terkaya biodiversitasnya sedunia.

”Meski penambangan dihentikan, pemulihan ekosistem tidak akan mudah,” ujar Maemunah.

Dia juga menyebutkan, era otonomi daerah berimplikasi pada distribusi kewenangan yang tidak berpihak bagi lingkungan kelautan. Izin usaha penambangan di berbagai wilayah provinsi dan kabupaten atau kota cenderung bertambah.

Rabu, 14 Januari 2009

Kodok, Indikator Perubahan Lingkungan


Jumat, 19 Desember 2008 | 15:29 WIB
Kodok merupakan hewan yang sangat terikat pada habitatnya. Kodok juga sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kepekaan ini dapat dijadikan sebagai indikator terjadinya perubahan lingkungan di sekitarnya. Dampak perubahan lingkungan terlihat pada turunnya populasi yang disertai turunnya keanekaragaman jenis kodok.
Tahun kodok

Tahun 2008 disepakati sebagai Tahun Kodok (Year of Frogs). Penetapan ini berawal dari kekhawatiran banyak ahli kodok di dunia terhadap rentannya eksistensi kodok akibat isu pemanasan global dan besarnya ancaman dari dampak lingkungan. Tujuan penetapan Tahun Kodok untuk mengangkat pamor kodok di dunia.

Bahaya yang dihadapi
Masalah utama yang mengancam populasi dan keanekaragaman jenis kodok di Indonesia adalah hilangnya habitat alami kodok, seperti penggundulan hutan hujan tropis, pencemaran air sungai (berupa limbah rumah tangga dan logam berat), dan konversi lahan basah menjadi areal perkebunan. Pemanfaatan yang berlebihan serta serangan penyakit jamur dan virus juga menjadi menjadi ancaman yang dihadapi kodok.

Jenis kodok endemik Jawa berstatus Kritis (CR):
- Kodok Merah (Leptophryne cruentata)
Hanya terdapat di hutan tropis dataran tinggi Jawa Barat.
- Kodok Pohon Ungaran (Philautus jacobsoni)
Hanya terdapat di hutan tropis Jawa Tengah.

Jenis endemik yang berstatus Rentan (VU):
- Kongkang Jeram (Huia masonii)
- Kodok Pohon Mutiara (Nyctixalus margaritifer)
- Kodok Pohon Kaki Putik (Philautus pallidipes)
- Kodok Pohon Jawa (Rhacophorus javanus)
Kerusakan hutan hujan tropis paling besar di Indonesia terjadi di Pulau Jawa. Kerusakan di Pulau Jawa berdampak nyata pada status jenis-jenis kodok yang terdapat di dalamnya, terutama jenis-jenis yang endemik (tidak terdapat di pulau lain).

Sekilas kodok
Kodok jantan datang ke kolam dan menggunakan teknik unik mereka untuk menarik perhatian kodok betina. Dengan teknik "amplexus", kodok jantan akan memeluk pinggang kodok betina.


Klasifikasi katak dan kodok:
• Kerajaan  : Animalia
• Filum  : Chordata
• Kelas  : Amfibia
• Bangsa : Anura

Polusi dan Reproduksi
Jenis-jenis yang tidak tahan terhadap polusi umumnya akan mati pada tingkat metamorfosis dari telur menjadi berudu, sedangkan jenis-jenis yang tahan umumnya akan mengalami pertumbuhan tidak normal atau cacat pada tangan atau kaki yang sangat berperan pada proses kawin kodok. Bila bentuknya tidak normal atau tidak tumbuh, hal itu berpengaruh pada berlanjutnya keturunan jenis kodok itu. Akibatnya, jenis yang tahan terhadap polusi air berangsur-angsur juga punah.

Status IUCN

Punah (Extinct)-EX 34 jenis
Punah di alam (Extinct in the Wild)-EW 1 jenis
Kritis (Critically Endangered)-CR 455 jenis
Genting (Endangered)-EN 768 jenis
Rentan (Vulnerable)-VU 670 jenis
Terancam (Near Threaten)-NT 369 jenis
Perlu Perhatian (least Concern)-LC 2.236 jenis
Data Tidak Cukup (Data Deficient)-DD 1.382 jenis

Kodok dalam Angka
- Dari 6.000 jenis kodok di dunia, 5.915 telah ditelaah statusnya oleh International Union for Conservation and Natural (IUCN) Resources.
- 1.893 berada dalam status terancam dan menuju kepunahan.
- Kodok di Indonesia diketahui 351 jenis yang telah terdeskripsi dengan benar.
- Lebih dari 100 jenis lainnya belum dideskripsikan.
Hidup katak dalam tiap tahap pertumbuhannya rentan akan bahaya. Misalnya katak pohon dalam semalam mampu bertelur sampai 500 butir. Dari 20 telur hanya 1 yang akan menjadi katak, dari 10 katak hanya 1 yang hidup lebih dari setahun.
Kodok berdarah dingin, suhu tubuh berubah sesuai suhu udara. Kulit katak mampu beradaptasi untuk menghindari kekeringan. Katak dapat menyerap air dan embun melalui kulitnya.
Amfibi adalah karnivora, sedangkan kebanyakan berudu adalah herbivora.
Predator kodok dan katak, antara lain, ular, burung, dan rakun.

Mekanisme pertahanan beberapa jenis katak dan kodok 
Limnonectes mempunyai geligi seperti taring sebagai alat pertahanan diri. Kulit beracun pada jenis Bufonidae dan Ranidae. Biasanya jenis ini baunya menyengat, berwarna terang. Kulit yang sangat lengket pada jenis suku Microhylidae. Beberapa katak menggembungkan tubuhnya.

Perbedaan katak dan kodok
Katak memiliki:
• Kulit yang halus dan berlendir
• Kaki yang panjang dan kuat
• Kaki belakang yang berselaput
• Dua mata yang menonjol
• Bertelur dalam klaster
Kodok memiliki
• Kulit yang kering dan berbintil
• Badan yang buntek dengan kaki belakang pendek
• Kelenjar paratoid di belakang mata
• Bertelur dalam rantai yang panjang

Pemanfaatan kodok
Fenomena pemanfaatan kodok yang berlangsung sampai saat ini adalah pemanfaatan yang tidak berkelanjutan tanpa memedulikan bentuk pelestarian. Bentuk pemanfaatan yang berpotensi menurunkan populasi kodok adalah konsumsi daging paha kodok. Indonesia adalah negara pengekspor daging paha kodok. Negara tujuan ekspor kodok, antara lain, Belanda, Perancis, Belgia, Portugal, Hongkong, dan Korea.
Jenis-jenis yang diekspor adalah kodok penghuni sawah (Fejervarya spp) dan kodok penghuni perairan berarus deras (Limnonectes spp) yang umumnya berukuran besar (kelompok macrodon). Keunggulan kodok jenis ini adalah kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan persawahan dan irigasinya. Kemampuan ini membuat ancaman terhadap status populasi di alam akibat pemanfaatan oleh manusia berkurang, didukung pula dengan bertambahnya habitat persawahan di Sumatera.
Beberapa jenis kodok berukuran besar dimanfaatkan kulitnya sebagai komoditas ekspor bahan baku sarung tangan. Kelompok kodok tersebut adalah dari jenis kodok berkulit kasar (Bufo spp), sedangkan dagingnya tidak dapat dikonsumsi karena mengandung racun.

wsn
http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/19/15292460/kodok.indikator.perubahan.lingkungan.

Polusi Karbon dari Layanan Google


Selasa, 13 Januari 2009 | 03:05 WIB
JAKARTA, SELASA - Jangan menyangka aktivitas pengguna Internet tidak menyebabkan global warming (pemanasan global). Setiap kali Anda memanfaatkan layanan di Google, tanda sadar Anda telah menyumbang polusi.
Hasil penelitian fisikawan dari Universitas Harvard Alex Wissner-Gross menyimpulkan setiap kalai mesin pencarian Goole bekerja rata-rata menghasilkan 7 gram karbon dioksida. Artinya dua kali pencarian saja sudah menghasilkan 14 gram atau setara dengan karbon sioksida yang dihasilkan saat seseorang merebus seceret air dengan kompor listrik.
Emisi karbon ini dihitung dari konsumsi listrik yang dibutuhkan komputer pengguna hingga energi yang dihabiskan data center Google yang beroperasi di seluruh dunia. Penggunaan nergi yang besar berarti emisi nkarbon dioksida yang besar pula mengingat sebagain besar pembangkit listrik yang digunakan saat ini masih berbasis sumber energi fosil.
Namun, temuan tersebut dibantah Google. Dalam blog resminya Google menilai hasil perhitungan tersebut terlalu tinggi. Google tidak memungkiri bahwa layanan menyedot energi namun hanya setara dengan melepaskan 0,2 gram karbon untuk setiap kali pencarian.
Google mengklaim setiap kali pencarian rata-rata dibutuhkan 0,2 detik. Akses ke server untuk setiap kali pencarian hanya dalam skala seperseribu detik. Jiak Goole rata-rata membutuhkan energi 0,0003 kWh untuk setiap kali pencarian, maka jumlah karbon yang dikeluarkan setara dengan 0,2 gram setiap kali pengguna melakukan pencarian.
"Kami telah menurunkan begitu banyak penggunaan energi di data center kami, namun kami juga masih menginignkan sumber listrik yang bersih dan murah untuk memasok kebutuhan energi kami," ujar Google dalam pernyatannya. Pada tahun 2007, Google membentuk Climate Savers Computing Initiative sebagai konsorsium non profit yang berkomitmen menekan penggunaan energi di tingkat konsumen hingga setengahnya mulai tahun 2010 dan menurunkan emisi karbon dioksida 54 juta ton per tahun.
Meski demikian, Wissner-Gross menyatakan layanan seperti Google tetap akan menyedot energi sangat besar. Ia mengatakan untuk meningkatkan kemampuan mesin pencarian, penyedia layanan harus menghabiskan energi lebih besar. Penelitian terakhir yang dilakukan firma analis Gartner menunjukkan layanan IT saat ini menyumbang dua persen emisi karbon diosksida di seluruh dunia.


WAH
Sumber : BBC
http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/13/03052521/polusi.karbon.dari.layanan.google

Senin, 08 Desember 2008

Emisi Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi

 
Lubang ozon fluktiatif dari tahun ke tahun namun cenderung meluas.

Kompas, Rabu, 26 November 2008 | 09:17 WIB
JENEWA, RABU — Emisi gas rumah kaca di atmosfer terus mengalami kenaikan pada 2007, dengan konsentrasi karbon dioksida mencapai rekor level tertinggi, demikian pernyataan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Selasa (Rabu, WIB).

Jumlah terakhir yang dipublikasikan dalam Greenhous Gas Bulletin 2007, WMO memperlihatkan bahwa emisi gas karbon dioksida mencapai 383,1 ppm, atau naik sebesar 0.5 persen dari 2006.

Konsentrasi nitrogen oksida juga mencapai rekor tertingginya pada 2007, naik 0,25 persen daripada tahun sebelumnya, sedangkan gas metana naik 0,34 persen, melampaui nilai tertinggi yang sejauh ini tercatat pada 2003.

Dengan menggunakan indeks tahunan gas rumah kaca NOAA, dampak pemanasan total semua gas rumah kaca yang berumur panjang dihitung telah naik sebesar 1,06 persen daripada tahun sebelumnya atau naik sebesar 24,2 persen sejak 1990, kata WMO dalam pernyataannya.


Kegiatan manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil dan pertanian, adalah sumber utama emisi gas tersebut, yang diakui banyak ilmuwan sebagai pemicu terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global.

Setelah uap air, empat gas utama rumah kaca di atmosfer adalah karbon dioksida, gas metan, nitrogen oksida dan chlorofluorocarbon (CFC). Menurut data WMO, tingkat CFC terus turun secara perlahan yang dapat dipandang sebagai pesan baik. Hal itu menurut WMO memperlihatkan keberhasilan yang terus dicapai oleh Protokol Montreal untuk mengurangi emisi gas perusak lapisan ozon.

AC
Sumber : Xinhua
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/26/09170415/emisi.gas.rumah.kaca.capai.rekor.tertinggi#


Rumput Laut Jadi Bahan "Biofuel"

 
Pertanian rumput laut di perairan Nusa Lembongan. Hasil panen rumput laut dari daerah itu diekspor ke sejumlah negara dan menjadi andalan penghasilan penduduk setempat.
 
Kompas, Rabu, 29 Oktober 2008 | 08:44 WIB
JAKARTA, RABU — Riset rumput laut yang dilakukan dari waktu ke waktu kian lebar menguak kegunaan tumbuhan air ini. Selama ini rumput laut telah banyak digunakan sebagai bahan baku beragam jenis produk, seperti pangan, farmasi, dan kosmetik.
Belakangan ini mulai diketahui manfaat lain rumput laut, yaitu sebagai pereduksi emisi gas karbon dan bahan baku biofuel. Oleh karena itu, untuk mengatasi krisis bahan bakar minyak (BBM) yang saat ini telah berlangsung, rumput laut harus dikembangkan pemanfaatannya sebagai sumber alternatif energi.
Hal itu disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi saat memberi sambutan pada Indonesia Seaweed Forum I di Makassar Sulawesi Selatan, Selasa (28/10). Pertemuan itu diselenggarakan Indonesia Seeweed Society, Asosiasi Petani Rumput Laut Indonesia, Ikatan Fikologi Indonesia, dan Asosiasi Rumput Laut Indonesia.
Mikroalga sebagai biodiesel, menurut Freddy, lebih kompetitif dibandingkan dengan komoditas lain. Sebagai perbandingan, mikroalga (30 persen minyak) seluas 1 hektar dapat menghasilkan biodiesel 58.700 liter per tahun, sedangkan jagung 172 liter per tahun, dan kelapa sawit 5.900 liter per tahun.
Selain itu, katanya, rumput laut juga bukan merupakan bahan konsumsi pokok harian dan budidayanya tidak memerlukan waktu yang lama.
Sebagai daerah yang memiliki kawasan pesisir yang luas, apalagi berada di daerah tropis, Indonesia berpotensi menjadi produsen terbesar rumput laut di dunia. Menurut Freddy, saat ini ada areal seluas 1,1 juta hektar lebih yang berpotensi untuk budidaya rumput laut, tetapi yang termanfaatkan hanya 20 persen.
Menanggapi harapan Freddy, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pihaknya akan menyediakan lahan yang memadai untuk budidaya rumput laut. Sulsel memiliki pesisir pantai sepanjang 2.000 kilometer dan hampir 1.000 jumlah pulaunya.
Revitalisasi perikanan
Karena memiliki beberapa keunggulan, Freddy menambahkan, rumput laut pun dapat menjadi komoditas utama dalam program revitalisasi perikanan. Keunggulan itu antara lain peluang ekspornya masih terbuka luas, harganya relatif stabil, dan belum ada kuota perdagangan bagi rumput laut.
Keunggulan lainnya, teknologi pembudidayaannya sederhana sehingga mudah dikuasai petani, siklus budidayanya relatif singkat sehingga cepat memberikan penghasilan dan keuntungan, kebutuhan modal relatif kecil, dan pembudidayaan rumput laut tergolong usaha padat karya. Di sisi lain, rumput laut ramah lingkungan dan tidak ada produk sintetisnya.
Dalam program revitalisasi budidaya rumput laut tahun 2009 ditargetkan tercapai produksi 1,9 juta ton. Untuk itu, Freddy menekankan perlunya penerapan pola pengembangan kawasan budidaya, terutama untuk komoditas Euchema dan Gracilaria. Luas lahan yang diperlukan sampai 2009 adalah 25.000 hektar, yakni 10.000 hektar untuk Gracilaria dan 15.000 hektar untuk Euchema.
Untuk penyediaan bibit akan dikembangkan kebun bibit di sentra atau pusat pengembangan di Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sulsel, Sultera, Maluku, dan Papua. Selain itu, juga akan dilakukan pengaturan pola tanam dan penyediaan 150 unit mesin praproses untuk perbaikan mutu pascapanen. Dengan pengembangan ini, diperkirakan akan terserap 255.000 tenaga kerja.

Yuni Ikawati
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/29/08443245/rumput.laut.jadi.bahan.biofuel 

Menyuburkan Lahan Gambut dengan Mikroba

Pembuatan kanal di lahan proyek lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan Tengah justru membuat kerusakan lahan gambut yang parah. Akibatnya, kebakaran hutan saat musim kemarau sering terjadi.
Jumat, 14 November 2008 | 22:05 WIB
JAKARTA, JUMAT - Pemanfaatan lahan di Indonesia sejak dulu telah salah arah. Lahan subur, terutama di Jawa, tak terbendung terus berubah fungsi ke nonpertanian. Sementara itu, kebutuhan pangan yang terus meningkat memaksa pemanfaatan lahan kering dan marginal yang umumnya di luar Jawa. Di sinilah rekayasa teknologi berperan untuk mengubahnya menjadi lahan subur. Salah satu yang kini gencar disasari adalah lahan gambut.
Dalam ASEAN-China Workshop on the Development of Effective Microbial Consortium Poten in Peat Modification di Jakarta, Senin (10/11), tim peneliti mikroba dari Pusat Teknologi Bioindustri BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), yang diketuai Gatyo Angkoso, melaporkan keberhasilan mereka menyuburkan lahan gambut dengan menambahkan limbah selulosa dari perkebunan kelapa sawit dan memasukkan secara bersamaan beberapa jenis isolat mikroba tertentu.

Perlakuan ini dapat mengurangi tingkat keasaman atau menaikkan pH lahan gambut dari rata-rata 3,5 menjadi 5,5, jelas Direktur Pusat Teknologi Bioindustri, Koesnandar, yang juga terlibat dalam riset tersebut, di Rasau dan Siantan, Kalimantan Barat. Selama ini lahan gambut secara alami memang tidak subur karena memiliki keasaman tinggi atau kebasaannya (pH) rendah, antara 2,8 dan 4,5. Sifat lain lahan gambut yang tidak menguntungkan adalah nilai kapasitas tukar kation dan kandungan organik yang tinggi.
Penyuburan lahan gambut dilakukan dengan memasukkan konsorsia atau beberapa kelompok mikroba. Dijelaskan Diana Nurani, peneliti, riset yang dilakukan sejak tahun 2006 berhasil diisolasi puluhan mikroba di dua daerah di Pontianak itu. Dari puluhan ditemukan empat kelompok mikroba yang memiliki kinerja yang baik dalam meningkatkan kebasaan lahan gambut.
Ditambahkan Koesnandar, mikroba itu ditemukan di lahan gambut, pada limbah kelapa sawit, dan kotoran sapi. Dari efeknya pada tanah gambut, konsorsia mikroba itu bersimbiosa mutualisme. Penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk meneliti peran dan karakteristik masing- masing mikroba.
Aplikasi empat kelompok mikroba pada tanah gambut selain dapat meningkatkan pH, juga terbukti memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan ketersediaan mineral. Keuntungan lainnya adalah mengganti cara konvensional, yaitu pembakaran yang biasa dilakukan petani di lahan gambut untuk meningkatkan pH tanah gambut.
Indonesia memiliki kawasan gambut keempat terluas di dunia, yakni 20,6 juta hektar. Peringkat pertama adalah Kanada (170 juta ha), Uni Soviet (150 juta ha), dan Amerika Serikat (40 juta ha). Lahan gambut di Indonesia terbanyak dijumpai di Sumatera (35 persen), Kalimantan (30 persen), dan Papua (30 persen). (YUN)


Sumber : Kompas Cetak

Hutan Rusak, Waduk Terkena Dampak

Waduk Prijetan di Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Kamis (7/8), tampak kering kerontang dan tanah di dasar waduk merekah. Waduk berkapasitas normal sekitar 9 juta meter kubik itu biasa digunakan untuk mengairi ribuan hektar sawah di sekitarnya. Saat ini, sejumlah petani memanfaatkan lahan di dalam waduk untuk ditanami palawija.


Minggu, 30 November 2008 | 15:54 WIB

Laporan wartawan Kompas Imam Prihadiyoko

CEPU, MINGGU - Menteri Kehutanan MS Kaban mengingatkan kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia memang memprihatinkan. Di Pulau Jawa, luas daratan dibanding hutan tinggal 19 persen saja.

"Padahal, idealnya luas minimal luas kawasan hutan itu 30 persen. Angka 19 persen ini, kalau tidak digenjot dengan usaha menanam, maka kekeringan dan kebanjiranlah yang didapat," ujarnya dihadapan massa pengajian Majelis Tafsir Al Quran di Cepu, Minggu (30/11).

"Kerusakan waduk, bukan hanya di Gajah Mungkur yang mengalami pendangkalan sebagai akibat menumpuknya lumpur. Bayangkan, waduk yang harusnya bertahan 100 tahun, sekarang sudah ada pendangkalan yang cukup parah," ujarnya.

Pendangkalan ini, menurut Kaban, juga disebabkan oleh area tangkapan airnya hilang. Hilangnya karena penjarahan, dan tidak ada penanaman kembali. "Itu sebabnya, saya sering mengajak berbagai pihak untuk menanam, dan terus menanam agar hutan kita banyak lagi," ujarnya.

Imam Prihadiyoko

Jumat, 23 Mei 2008

Memetakan Pemanasan Global Lewat Internet

JAKARTA, KAMIS - Sebuah peta Bumi yang hidup, yang menggambarkan pengaruh langsung perubahan iklim mulai sekarang sampai seabad mendatang, segera Anda nikmati melalui komputer pribadi. Ini berkat proyek Climate Change in Our World (Perubahan Iklim di Bumi Kita) hasil kerja sama mesin pencari web Google, Kementerian Lingkungan Inggris, dan Badan Meteorologi Inggris atau yang biasa disebut Met Office.Berbasiskan Google Earth yang telah lebih dahulu diluncurkan dan dapat diakses gratis, dengan menggunakan satelit Badan Ruang Angkasa Amerika Serikat (NASA), para pengguna internet dapat melihat kronologi pemanasan Bumi lebih dari 2.100 skenario atau kemungkinan, dilihat dari perspektif planet atau melihat perubahan itu berdasarkan negara dan bahkan kota-kota."Proyek ini menunjukkan para pengguna mengenai perubahan iklim yang sesungguhnya dengan menggunakan perkiraan dua perubahan, yakni rata-rata suhu udara di mana mereka tinggal dan pengaruh perubahan iklim itu terhadap manusia di seluruh dunia," kata Sekretaris Kementerian Lingkungan Inggris Hilary Benn sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (20/5).
Ia melanjutkan, "Dengan memberi pemahaman mengenai perubahan iklim, diharapkan akan memobilisasi kita bersama untuk menghindari pengaruh yang lebih buruk dengan melakukan aksi dari sekarang."
Para pemimpin ekonomi dunia dalam pertemuan berkalanya sepakat mengurangi 50 persen emisi karbon sampai tahun 2050 dari 1990.PEP Sumber : KOMPAS

Kamis, 22 Mei 2008

Global Warming

LET'S WE ALL DO THAT

BEFORE IT'S TOO LATE


PLEASE HELP TO DECREASE GLOBAL WARMING...!!!

1. Melepas stop-kontak perangkat listrik walaupun ketika alat elektronik itu dimatikan = menghemat 40-50% daya listrik. Selain menghemat bayar listrik, itu berarti pula, mengurangi panas yang timbul dari alat elektronik yang merembet ke pemanasan global.


2.
Kantong plastik butuh waktu 1.000 tahun untuk terurai di TPA(Tempat Pembuangan Akhir) wow!!!. Sekitar 300 juta buah kantong plastik dibuang tiap tahunnya di TPA di Indonesia. Belum lagi yang dibuang di sungai-sungai dan tempat-tempat yang tidak semestinya.

3. Ketika kamu membeli 1 liter air mineral di supermarket = beli 5 liter air. Tanya kenapa...? Karena di pabrik, untuk mendinginkan botol plastik panas yang baru dicetak, membutuhkan 5 liter air... ck.. ck.. cck..

Kode botol apa yang aman digunakan sebagai botol air ? Lihat tanda di bagian bawah botol itu... tuuuh yang ada gambar SEGITIGA recycle, nah di dalam segitiga itu ada nomornya, cari yang nomor 2, 3 atau 4... selain nomor-nomor itu... THEY'RE NOT SAFE, artinya sama aja kita makan sampah plastik...!!! Nomor itu menunjukkan BERAPA KALI botol plastik itu sudah di recycle. (ayo cek... botol atau cangkirnya masing2)


4. 10 kg kertas koran yang siap di jual loakan... itu membutuhkan 1 pohon yang butuh waktu 10 tahun untuk jadi besar.
Bayangkan yang terjadi dengan ilegal logging... how many trees has been cut down for you ? Imagine how they make the world hotter ? Jadi, pakai kertas di kedua sisinya, yah, karena toh kita agak nggak mungkin untuk
berhenti pakai kertas.
(sepertinya harus segera di galakkan di kampus hijau kita nih.. )..

5. Tisue yang sudah di pakai itu ngga bisa di recycle... begitu juga karton-karton bekas yang kena minyak, makanan, kue, minuman... They're only a waste...! Mau tidak mau tanahlah yang harus me-recycle. Perkiraan orang memakai tisue 6 lembar sehari or 2.200 lembar setahun. Berarti kira-kira 44 MILIAR lembar seluruh Indonesia setahun... Kalau kita menghemat 1 lembar aja tiap hari... berarti kita mengurangi sampah kertas sebanyak 7 MILIAR biji setahun... HEBAT KAN...? Kalau memungkinkan, bawa sapu-tangan aja kemana-mana. ( ayo cewek2.... jangan beli tisue lagi..)

6. Be Green on ATM... kalau di ATM kan ada yang ambil uang tidak pakai receipt... atau be smart dong... transfer lewat Internet banking atau mobile banking.... 8 MILIAR kali transaksi di ATM yang mengeluarkan kertas receipt tiap tahun adalah salah satu sumber sampah terbesar di dunia. Kalau selama setahun orang transaksi tidak pakai kertas receipt, itu akan menghemat satu roll besar kertas yang bisa buat melingkari garis equator sampe 15 kali...! (kebayang ga seeehhh)

7. Minimal punya 2 macam tempat sampah di rumah, membantu mengurangi polusi air, udara dan tanah. Pisahkan sampah basah (sisa makanan dan masakan, daun, minuman) dan sampah kering ( botol, plastik, kertas, kaca) Lebih baik lagi untuk memisahkan sampah menurut 4 kelas :

- PLASTIK (pembungkus makanan, kantong kresek, kantong belanjaan)
- RUMAH TANGGA (tulang ayam, sisa capcay, makanan basi)
- KERTAS (pembungkus gorengan, popok bayi, tisue yang sudah dipakai)
- Buku bekas catatan, kertas nota tagihan, koran, kertas iklan... dipisahkan untuk DIJUAL !

- LOGAM & KACA (kaleng susu, kaleng makanan)


Hanya butuh waktu 2 bulan untuk menjadikan sampah rumah tangga menjadi kompos yang bisa dipakai lagi untuk pupuk tanaman...

Polar bear (Beruang kutub) yang lucu itu nggak bisa berenang... tapi karena global warming di Kutub Utara maka mereka harus berenang 30 km untuk mencari es tempat berteduh... kasihan sekali !

Watch DISCOVERY CHANNEL : PLANET EARTH... pasti nangis deh melihat perjuangan seekor beruang kutub yang akhirnya mati karena kelelahan mencari daratan.

Is this the world you will leave for your children...?

Save the world, save our lifes, save our children...!

Regards,

Abdi Setya Pama, ST

HSE Dept.

PT Perkasa Inakakerta coal Project,

Bengalon Site - East Kalimantan

www.bayan.com.sg

Phone : +62-541 878669/ 670

Mobile : +62-819 77799880

+62-813 68973669


Selasa, 20 Mei 2008

Minyak Tanah Kosong, Kotoran Sapi Pun Berguna

Jumat, 16 Mei 2008 07:54 WIB
Oleh M syaifullah dan C Sapto Antowalyono
Hanya sekali sulut, api berwarna biru pun langsung menyala. ”Lihat apinya. Birunya sama seperti api dari kompor gas elpiji,” kata Iskak, lelaki berumur sekitar 50 tahun, warga Gang Arjuno, Jalan Pondok Empat, Loktabat Utara, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Sejak dua tahun lalu, keluarga Iskak dan belasan tetangganya menikmati manfaat kotoran hewan yang sebelumnya terbuang percuma di desanya itu. Repot pada awal penyiapannya, tetapi kemudian menyenangkan pada hari-hari berikutnya.
Selesai menyalakan kompor, Samnah, istrinya, datang membawa ikan segar yang baru dibeli. ”Tidak hanya bahan bakar minyak (BBM) yang naik, harga ikan pun ikut naik. Kami bersyukur karena kompor ini kami bisa hemat tidak beli BBM,” katanya.
Kompor yang dimiliki keluarga Iskak bukan kompor minyak tanah atau gas. Bentuk kompor hampir sama, yang membedakan bahan bakarnya menggunakan gas yang dihasilkan kotoran sapi atau kompor biogas.
Berkat kompor itu, dua tahun terakhir mereka tak seperti warga lain yang direpotkan kenaikan harga BBM dan elpiji. Harga minyak tanah di Banjarmasin dan Banjarbaru saat ini mencapai Rp 5.000 per liter. Harga eceran elpiji tabung 12 kilogram sudah lebih dari Rp 100.000.
Bagi keluarga Iskak yang tinggal di rumah batako sederhana, di tengah kondisi harga-harga terus naik, penggunaan biogas yang hemat sangat berarti. ”Uang BBM yang tidak terpakai saya gunakan untuk membeli tambahan pakan sapi. Agar gemuk, sapi diberi tambahan pakan ampas tahu dan tapioka,” ujarnya.
Dari usaha ternak, Iskak pun memiliki mobil pikap dan sepeda motor. Mobil untuk alat angkut sapi yang akan dijual dan pengangkut pakan ternak.
Kompor biogas milik Iskak adalah bagian dari proyek Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2006. Ketika itu, ESDM membangun 50 instalasi biogas lengkap dengan kompor biogasnya. Sepuluh unit diberikan kepada peternak sapi di Banjarbaru dan 40 lainnya disebar bagi peternak di Kabupaten Tabalong, Balangan, dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan (Kalsel).
Peternak sapi memang menjadi sasaran proyek ini karena selama ini kotoran sapi belum banyak dimanfaatkan kecuali untuk pupuk kandang. Iskak dipilih karena punya sapi lebih dari lima ekor sehingga ternaknya memenuhi syarat jumlah pasokan kotoran untuk pembuatan biogas.
Sekarang ini Iskak bahkan sudah punya 35 sapi potong. Tahun 2006, peternak Banjarbaru memiliki 4.729 sapi.
Biogas dihasilkan dari kotoran sapi atau biomassa lewat proses dan instalasi yang disebut reaktor biogas. Dibangun di samping rumah Iskak, reaktor itu terbuat dari dua tabung besar dari plastik yang dikencangkan seperti balon. Pada tabung balon pertama sepanjang 4 meter diberi pipa besar untuk memasukkan kotoran sapi pada bagian depannya. Pada bagian belakang juga diberi pipa saluran untuk keluar kotoran sapi yang telah terpakai.
Dari bagian atas tabung pertama itu juga diberi selang yang menghubungkan ke tabung balon kedua berukuran panjang 2 meter. Tabung kedua menampung gas dari kotoran tersebut. Untuk menyalurkan gas ke kompor diberi selang yang dilengkapi alat mengontrol tekanan gas. Alat itu berfungsi apabila kelebihan, gas akan keluar sendiri. ”Biogas yang dihasilkan bisa dipakai 2-3 hari tanpa bau kotoran sapi lagi,” paparnya.
Pemanfaatan biogas ternyata juga dikembangkan peternak sapi di Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Permukiman transmigrasi ini dipilih karena rata-rata keluarga memiliki 5-10 sapi.
Menurut Ketua Kelompok Tani Karya Jaya II Hadi Karsono, kelompok tani yang dipimpinnya pada tahun 2007 menerima bantuan 12 unit instalasi biogas dari Departemen ESDM.
Apa yang dilakukan Departemen ESDM dikerjakan pula Departemen Kelautan dan Perikanan dengan pengembangan energi alternatif, listrik tenaga surya (LTS) sejak tahun 2003, di 15 provinsi di seluruh Indonesia, dengan 3.831 kepala keluarga penerima proyek LTS ini. Tahun 2007, sebanyak 800 reaktor biogas juga dikembangkan di Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Jatim, pulau penghasil ternak sapi unggul (Kompas, 14/5).
Sebelum ada bantuan instalasi biogas, petani Kalteng itu rata- rata membeli 35 liter minyak tanah per bulan untuk memasak. Setelah menggunakan biogas, tiap keluarga hanya membeli 15-20 liter minyak tanah per bulan. Uang yang ada digunakan Hadi untuk membeli bibit sayur yang ditanam di ladangnya seluas 1 hektar. Dari hasil berkebun sayur, seperti sawi putih, lombok, dan jagung, serta beternak sapi itulah rumah Hadi yang dulunya kayu kini sudah menjadi semipermanen. Bahkan, dia juga memiliki sepeda motor, pengangkut sayur dan hasil kebunnya. ”Minyak tanah hanya saya pakai saat darurat, misalnya jika pengisian kotoran sapi ke kantong terlambat,” katanya.
Kepala Dinas Kehewanan Provinsi Kalteng Tute Lelo menuturkan, Pemprov Kalteng sejak tiga tahun terakhir juga membangun reaktor biogas di seluruh Kalteng untuk mendorong peternak membuat sendiri biogas.
Reaktor milik Hadi dapat berfungsi empat jam sehari untuk memasak. ”Sudah setahun, 12 unit instalasi biogas milik petani beroperasi dengan baik. Yang penting, kami punya perasaan mandiri sekarang karena mengelola biogas ini,” kata Hadi.

M Syaifullah,Cyprianus Anto Saptowalyono

Senin, 19 Mei 2008

Sebagian Besar Es di Arktik Meleleh Musim Panas Ini

Sabtu, 3 Mei 2008 01:12 WIB
WASHINGTON, SABTU - Es di Benua Antartika akan semakin menipis. Hal ini disebabkan pemanasan global. "Perkiraan jangka panjangnya tidak begitu optimistis," kata ilmuwan atmosfer, Jennifer Francis dari Rutgers University, Jumat (2/5) waktu setempat. James Overland, pakar oseanografi dari National Oceanic and Atmospheric Administration, mengatakan, "Musim panas yang lalu, es di utara berkurang dengan kecepatan tertinggi yang pernah dicatat, diduga karena pemanasan global. Walaupun radiasi matahari dan gas rumah kaca di atmosfer kutub sama dengan bagian bumi yang lain, sampai saat ini kawasan kutub merespons secara berbeda." Kesimpulan para peneliti adalah di utara, pemanasan global dan keragaman iklim alami saling memengaruhi, membawa Arktik ke kondisi baru, dengan berkurangnya lautan es dibandingkan sebelumnya. Sebaliknya, Overland menjelaskan,"Lubang ozon di Antartika melindungi kondisi benua ini sehingga suhunya tetap rendah di hampir seluruh bagian, kecuali pada semenanjung yang menjorok ke Amerika Selatan.

Source

Pengaruh Pemanasan Global di Candi Borobudur


Tahun ini, Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur akan mulai meneliti pengaruh pemanasan global terhadap batuan Candi Borobudur. Saat ini, upaya tersebut sudah diawali dengan mengumpulkan berbagai data diantaranya menyangkut kelembapan, suhu, dan cur ah hujan, selama 20 tahun terakhir.
"Namun, untuk melakukan analisis terhadap batuan candi, kami nantinya akan menggandeng ahli atau pakar dari pihak luar," ujar Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Marsis Sutopo, Kamis (10/4). Pihak luar yang akan dilibatkan adalah dosen, pakar klimatologi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.
Penelitian ini dimungkinkan akan berlangsung lama, lebih dari setahun. Dari kegiatan ini, nantinya akan diketahui seberapa besar pengaruh perubahan iklim dan cuaca terhadap sifat-sifat dan kondisi batuan candi.

Selasa, 04 Desember 2007

Penemu Blue Energy Warga Nganjuk

INDONESIA MEMANG HEBAT.....
JAWA POS Jumat, 30 Nov 2007
Penemu Blue Energy Warga Nganjuk
Berbahan Dasar Air, Dipamerkan dalam Konferensi PBB
NGANJUK- Tak banyak yang tahu,
penemu bahan bakar blue energy yang sedang dikampanyekan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ternyata berasal dari Nganjuk. Dia adalah Joko Suprapto, warga Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso.
Kemarin, tim uji coba kendaraan berbahan bakar tersebut mengunjunginya. Mereka dipimpin staf khusus Presiden SBY,
Heru Lelono. Rombongan itu dalam perjalanan dari Cikeas, Bogor menuju Nusa Dua, Bali, tempat digelarnya United Nation Framework Conference on Climate Change (UNFCCC) 2007.
"Luar biasa. Ini mobil Mazda Six punya Patwal Mabes (Polri) yang bisa berkecepatan 240 kilometer per jam ini kami coba lari 180 kilometer per jam tanpa ada persoalan. Jadi, moga-moga apa yang kita uji coba ini benar-benar bermanfaat. Insya Allah," ujar Heru begitu turun dari Ford Ranger B 9648 TJ.
Untuk diketahui, pertemuan kemarin berlangsung di salah satu hotel di Nganjuk. Rombongan Heru tiba sekitar pukul 09.00. Mereka mengendarai lima unit kendaraan untuk menguji bahan bakar berbahan dasar air tersebut. Yakni, dua pikap double cabin Ford Ranger, satu sedan Mazda 6, satu bus, dan satu truk pengangkut blue energy.
Sebelumnya, rombongan dilepas oleh Presiden SBY, Minggu lalu, dari kediaman pribadinya di Cikeas, Bogor. Rencananya, blue energy itu juga akan dipamerkan kepada dunia dalam UNCFCCC atau Konferensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim di Nusa Dua, Bali .
"Kita ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa kita bukan bangsa kere yang terombang-ambing harga minyak dunia. Bangsa Indonesia bisa menemukan (bahan bakar, Red) sendiri," tandas Heru bangga.
Kepada puluhan wartawan yang sejak pagi menunggu kedatangan rombongan, Heru mengungkapkan bahwa bahan bakar hasil penelitian belasan tahun Joko itu sangat irit. "Sekitar satu lima belas (1 liter dibanding 15 kilometer, Red). Tadi kami mencatat, untuk menempuh 374,5 kilometer, hanya butuh 25 liter," tutur staf khusus Presiden bidang otonomi daerah itu.
Selain hemat dan mampu meningkatkan performa kendaraan, lanjut Heru, keunggulan bahan bakar tersebut adalah rendahnya emisi karbon yang dihasilkan. Ini sesuai dengan pesan UNFCCC yang digelar 3-14 Desember mendatang.
"Sudah dicoba sendiri oleh Bapak Presiden. Beliau kemarin sempat duduk di belakang knalpot bus ini sambil menciumi asapnya. Paspampres (pasukan pengamanan presiden) sempat kerepotan takut Presiden karacunan, tapi tidak. Coba saja," tantangnya.
Penasaran, Wakil Bupati Nganjuk Djaelani Ishaq yang kemarin ikut menyambut kedatangan rombongan langsung mencoba mencium asap dari moncong knalpot bus. "Sama sekali tidak ada baunya," kata Djaelani setelah berkali-kali setelah mengisap asap tersebut.
Ditemani Joko, Heru kemarin juga mengungkapkan bahwa untuk memakai blue energy, mesin tidak perlu dimodifikasi. "Sama sekali tidak perlu ada modifikasi apa-apa. Ini kami bawa mobil berlainan tahun, semua bisa pakai," tandasnya.
Bahkan, lanjut Heru, ada yang sebelumnya menggunakan solar dan di tengah jalan langsung diganti 100 persen dengan blue energy. "Mobilnya malah semakin tidak ada getaran," lanjutnya bangga.
Sementara itu, Joko Suprapto yang selama ini terkesan misterius soal kedekatannya dengan SBY, kemarin mulai blak-blakan. Terutama soal aktivitasnya sebagai peneliti dan penemu blue energy. Dia bahkan sempat sedikit membeber teknologi yang mulai ditelitinya sejak 2001.
"
Intinya adalah pemecahan molekul air menjadi H plus dan O2 min. Ada katalis dan proses-proses sampai menjadi bahan bakar dengan rangkaian karbon tertentu," terang peneliti yang mengaku mengambil ide dari ayat2 Alquran itu.
Untuk mesin dengan bahan bakar premium, solar, premix, hingga avtur, Joko mengaku telah menyiapkan bahan bakar pengganti sesuai dengan mesinnya. "Tinggal mengatur jumlah rangkaian karbonnya. Mau untuk mesin bensin, solar, sampai avtur ya sudah ada," kata ayah enam anak itu.
Yang menarik,
bahan dasar air yang digunakan adalah air laut. "Kalau air tanah bisa menyedot ribuan atau jutaan meter kubik. Kasihan masyarakat, paling bagus nanti bahannya air laut," terang pria yang selalu menyembunyikan identitasnya, termasuk almamater tempatnya meraih gelar insinyur, itu. (jie)

Kamis, 11 Oktober 2007

Dapatkah Pemanasan Global Mencairkan Seluruh Es di Bumi?

28/03/07 17:26

Moskow (ANTARA News/Ria Novosti) - Jika suatu ketika lapisan es di bumi mencair maka ketinggian permukaan air laut dapat dipastikan naik hingga 64 meter.

Nikolai Osokin, pakar glaciologi pada Institut Geografi, Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, memperkirakan, kota-kota ditepi pantai kemudian tenggelam di bawah permukaan air, termasuk Belanda, yang sebagian besar wilayahnya notabene berada di bawah permukaan air laut.

Bagaimanapun juga, baik Belanda maupun seisi planet bumi yakin bahwa kehancuran yang luar biasa dapat terjadi setiap saat dalam beberapa ribu tahun mendatang.

"Institut kami telah mempersiapkan atlas yang menggambarkan tempat-tempat dengan sumber es dan salju di seluruh dunia, bahkan kami juga telah menyiapkan model peta dunia dengan tanpa lapisan es," katanya.

Hal ini, bagaimanapun juga, hanyalah sebuah model, bukan ramalan. Akan tetapi, peringatan dari sebuah ramalan tetap saja ada jika pemanasan global yang telah terlihat pada akhir abad ke-20 ini berlanjut untuk beberapa dekade kedepan -- banyak es di samudra Artik akan mencair.

Ada sebuah prasyarat yang penting: Sekalipun es Artik harus mencair, ketinggian permukaan laut tidak akan berubah karena volume air yang dihasilkan oleh es yang mencair sama dengan volume air yang digantikan ketika es tersebut mengambang.

Tingkat bahayanya berbeda: pemanasan dapat memicu pencairan pulau sebesar satu benua es. Saat ini, lapisan es terbesar menutupi Antartika, dimana 90 persen es dunia berada di sana dan Greenland. Cairnya lapisan es ini dipastikan dapat membawa kehancuran.

Lantas, adakah alasan untuk panik? Tingkat suhu yang naik antara 3-6 derajat celcius dalam beberapa abad ke depan diyakini tidak mempunyai pengaruh yang signifikan bagi Antartika, dimana suhu rata-rata di sana kurang dari 40 derajat di bawah nol.

Proses yang terjadi pada lapisan permafrost bahkan lebih rumit lagi bila dibandingkan dengan proses yang terjadi pada es itu sendiri.

Musim dingin pada beberapa dekade terakhir sedikit tidak normal. Karena itu, lapisan permafrost yang tertutup es di wilayah Artik mulai berkurang dan mencair. Masa pemanasan sebenarnya dapat terlihat, bahkan semakin dekat.

Proses paling alami di bumi adalah sebuah siklus, dengan ritme yang pendek atau panjang. Tetapi, apapun yang terlihat, kenaikan suhu tidak dapat dihindari akan diikuti oleh penurunan, dan sebaliknya.

Penelitian tentang inti es yang dilakukan oleh stasiun Antartik Vostok milik Rusia menunjukkan bahwa ini adalah apa yang telah terjadi di bumi untuk paling sedikit 400.000 tahun.

Saat ini, para ilmuwan mengatakan bahwa mencairnya lapisan es mulai berhenti, yang telah dibuktikan dari data yang didapatkan oleh stasiun meteorologi di sepanjang pantai Artik Rusia.

"Kami saat ini sedang mempelajari pengaruh dari atmosfer dan lapisan salju yang menutupi lapisan permafrost," kata Osokin seperti dikutip Ria Novosti.

Di wilayah yang tertutupi lapisan permafrost, sebuah lapisan mencair pada musim panas, ketika suhu naik di atas nol. Namun demikian, pada musim dingin lapisan ini kembali membeku. Ini adalah proses yang normal: mencair, membeku.

Akan tetapi, jika musim dingin secara tidak normal menjadi hangat, lapisan yang mencair tidak membeku kembali. Kemudian, lapisan yang disebut talik, dengan suhu sekitar nol, terbentuk. Ini adalah suatu hal yang cukup mengganggu bagi bangunan-bangunan dan pipa-pipa.

Terlihat jelas bahwa lapisan es seharusnya mencair jika suhu meningkat. Akan tetapi, banyak tempat yang menyaksikan hal berbeda. Suhu rata-rata tahunan bertambah tinggi, tetapi lapisan es tidak mencair, bahkan bertambah luas.

Kenapa? Karena faktor yang paling penting adalah adanya lapisan salju. Pemanasan global mengurangi lapisan ini, yang pada akhirnya membentuk semacam penyumbat panas bagi lapisan es yang lebih tipis. Sehingga es yang paling lunak sekalipun dapat membekukan tanah di bawahnya.

Di banyak tempat, tanah yang membeku dalamnya sekitar 500-800 meter. Bahkan jika perkiraan pemanasan tertinggi menjadi kenyataan dan suhu naik dengan 3-6 derajat, tidak lebih dari 20 meter tanah yang beku akan mencair.

Beberapa orang takut bahwa lapisan es yang mencair akan mencemari udara dengan metana yang menguap. Akan tetapi, air yang membeku hanya membutuhkan 15 persen dari lapisan berkedalaman 20 meter, dan jumlah gas yang menguap tidak signifikan. Jadi, manusia hanya akan menerima dampak yang kurang menyenangkan ini dalam beberapa ratus tahun mendatang.

Saat ini, para ilmuwan tidak begitu mengkhawatirkan pemanasan global sebagai suatu perubahan dalam sirkulasi atmosfer. Dalam beberapa tahun belakangan ini, apa yang disebut dengan pergeseran barat telah mendominasi, yang berarti bahwa udara bergerak dari wilayah barat menuju timur.

Sedikit sekali yang membicarakan mengenai pergeseran meridian, bergerak dari selatan ke utara dan sebaliknya. Sekarang, pergeseran meridian menjadi sering.

Jika angin bergerak menuju selatan, maka akan timbul udara dingin; jika bergerak ke utara, angin membawa udara hangat dan hujan pada musim dingin.

Hal ini mengakibatkan meleleh dan bergeraknya salju es baik pada situasi biasa maupun dalam hujan salju yang lebat, mengakibatkan longsor dan Lumpur di pegunungan.

Proses meridian telah menjadi suatu rutinitas akhir-akhir ini, yang menjanjikan sebuah perhitungan anomali udara yang berbeda; suhu yang tinggi dan rendah, hujan deras dan hujan salju serta banjir dalam waktu yang lama, yang pastinya akan membawa kepada kehancuran.(*)

Copyright © 2007 ANTARA