Rabu, 10 Oktober 2007

Mengamankan Air Minum Isi Ulang

AIR tawar bersih yang layak minum, kian langka di perkotaan. Sungai-sungai yang menjadi sumbernya sudah tercemar berbagai macam limbah, mulai dari buangan sampah organik rumah tangga hingga limbah beracun dari industri. Air tanah pun sudah tidak aman dijadikan bahan air minum karena telah terkontaminasi rembesan dari tangki septik maupun air permukaan yang tercemar.

ITULAH salah satu alasan mengapa air minum dalam kemasan (AMDK)-yang disebut-sebut menggunakan air dari pegunungan- banyak dikonsumsi. Namun, harga AMDK dari berbagai merek yang terus meningkat membuat konsumen mencari alternatif baru yang murah.
Air minum isi ulang menjadi jawabannya. Air minum yang bisa diperoleh di depot-depot itu harganya bisa sepertiga dari produk air minum dalam kemasan yang bermerek. Tak heran banyak rumah tangga beralih pada layanan ini. Tak heran bila depot-depot air minum isi ulang juga menjamur.

Siapa saja dapat membuka usaha penjualan air minum isi ulang, asalkan punya modal Rp 30-70 juta. Salah satu pengusaha air minum isi ulang di Kalimalang, Bekasi, Andreas Sanusi, mengeluarkan modal sekitar Rp 70 juta untuk memasang instalasi pengolahan air minum isi ulang yang didatangkan dari Australia.

Bahan baku tersedia

Baginya usaha itu tidak sulit, karena segala sesuatu mulai dari pemasangan instalasi, pemasokan air baku yang berasal dari Sukabumi, filter atau penyaring, hingga lampu ultraviolet untuk membunuh kuman telah ada pemasoknya.

Sejak menekuni bidang usaha itu tujuh bulan lalu, omzetnya mencapai 100 galon per hari. Dari itu ia sudah memperoleh keuntungan bersih 30 persen dari biaya operasional setiap bulannya.
Instalasi buatan Australia yang digunakan Andreas tergolong memadai dari segi proses penyaringan dan desinfeksi. Dalam depotnya terpasang empat tangki besar yang menampung air baku. Kemudian untuk mengisi tabung-tabung galon konsumen, air baku itu harus melewati beberapa proses.

Pertama air akan melewati filter dari bahan silika untuk menyaring partikel kasar. Setelah itu memasuki tabung karbon aktif untuk menghilangkan bau. Tahap berikutnya adalah air disaring dengan mata saringan berukuran 10 mikron lalu ke saringan 1 mikron untuk menahan bakteri.
Dari situ air yang telah bebas dari bau dan bakteri ditampung di tabung khusus yang berukuran lebih kecil dibanding tabung penampung air baku. Selanjutnya adalah tahap mematikan kuman yang mungkin masih tersisa.

Untuk mematikan kuman instalasi air minum isi ulang banyak menggunakan sistem lampu sinar ultraviolet atau ultraungu yang daya radiasinya efektif membasmi bakteri.
Dijelaskan oleh Suprihatin, Ketua Penelitian Laboratorium Teknologi dan Manajemen Lingkungan Institut Pertanian Bogor, sinar itu berfungsi mengoksidasi unsur organik dalam air sehingga rusak. Bila itu berupa kuman, maka mikroorganisme itu akan mati.
"Namun, untuk dapat mematikan bakteri diperlukan penyinaran dalam jangka waktu tertentu," paparnya.

Jenis pengolahan air

Menurut Willy Sidharta, Direktur Operasi Aqua, proses sanitasi air memang dapat dilakukan dengan beberapa cara mulai dari memanaskan air hingga ozonisasi. Cara sanitasi air yang paling sederhana adalah memanaskan air hingga titik didih.

Cara kedua yang juga mudah dan murah adalah klorinasi atau pencampuran kaporit kedalam air. Konsentrasi sekitar 2 ppm cukup untuk membunuh bakteri. Penggunaan kaporit akan menimbulkan bau pada air dan untuk menghilangkannya diperlukan proses penyaringan dengan media karbon aktif.

Alternatif ketiga yang jarang dipakai adalah penggunaan senyawa perak-biasanya perak nitrat-dengan mencampurkannya ke dalam air. Penggunaan ini biasanya untuk keadaan memaksa, misalnya tentara pada waktu perang atau bagi petugas survei yang harus bekerja di tempat yang jauh dan tak ada air bersih.

Alternatif keempat, sanitasi dengan ultraviolet. Air dialirkan melalui tabung dengan lampu ultraviolet berintensitas tinggi, sehingga bakteri terbunuh oleh radiasi sinar ultraviolet. Yang harus diperhatikan disini adalah intensitas lampu ultraviolet yang dipakai harus cukup, untuk sanitasi air yang efektif diperlukan intensitas sebesar 30.000 MW sec/cm² (Micro Watt detik per sentimeter persegi).

Proses yang relatif baru adalah mencampur gas ozon kedalam air, dikenal dengan nama ozonisasi. Ozon merupakan oksidan kuat yang mampu membunuh bakteri patogen, termasuk virus.

Keuntungan penggunaan ozon adalah pipa, peralatan, dan kemasan akan ikut disanitasi sehingga produk yang dihasilkan akan lebih terjamin selama tidak ada kebocoran di kemasan. Ozon merupakan bahan sanitasi air yang efektif disamping sangat aman.
Seperti halnya ozon, radiasi sinar ultraviolet dapat membunuh semua jenis mikroba bila intensitas dan waktunya cukup. Tidak ada residu atau hasil samping dari proses penyinaran dengan UV.

Namun, agar efektif lampu UV harus dibersihkan atau secara teratur, dan harus diganti paling lama satu tahun. Air yang akan disinari dengan UV harus telah melalui filter halus dan karbon aktif untuk menghilangkan partikel tersuspensi, bahan organik, dan Fe atau Mn (jika konsentrasinya cukup tinggi).

Sistem filtrasi

Desinfeksi air minum juga dapat dilakukan dengan filtrasi membran. Klorinasi tidak digunakan dalam proses pengolahan air minum, karena sisa klor dalam air dapat menimbulkan bau yang mengganggu pada saat dikonsumsi.

Penyaringan (filtrasi) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu filtrasi dengan pasir dan filtrasi membran. Filtrasi pasir untuk memisahkan partikel berukuran besar ($> 3 mikrometer), mikrofiltrasi membran dapat memisahkan partikel berukuran lebih kecil ($> 0,08 mikrometer), ultrafiltrasi dapat memisahkan makromolekul, nanofiltrasi dapat memisahkan mikromolekul dan ion-ion bervalensi dua (misalnya Mg, Ca).

Adapun ion-ion dapat dipisahkan dengan membran reverses osmosis. Dengan demikian, penggunaan mikrofiltrasi dapat memisahkan bakteri, dan penggunaan ultrafiltrasi dapat memisahkan selain bakteri juga virus (ukuran virus setara dengan ukuran molekul protein, yaitu sekitar 0,02-0,1 mikrometer).

"Proses pengolahan air minum pada prinsipnya harus mampu menghilangkan semua jenis polutan, baik pencemar fisik, kimia maupun mikrobiologis," urai Suprihatin.
Bahan tersuspensi dapat dihilangkan dengan cara koagulasi/flokulasi, sedimentasi, filtrasi pasir atau membran filtrasi (mikrofiltrasi). Bahan-bahan terlarut dapat dihilangkan dengan aerasi (misalnya Fe dan Mn), oksidasi (misalnya dengan ozonisasi atau radiasi UV), adsorpsi dengan karbon aktif, atau membran filtrasi (Reversed Osmosis).

Menurut Suprihatin, munculnya usaha air minum isi ulang merupakan fenomena yang tidak dapat dihilangkan. Dengan menjamurnya usaha tersebut, yang diperlukan adalah pengaturan berupa standar produk dan prosesnya.

"Dengan begitu bukan hanya pihak konsumen yang terlindungi tetapi juga usaha air minum isi ulang itu sendiri," paparnya. (yun)

4 komentar:

dormaringan mengatakan...

Dua hari lalu (8/10) lembaga kami mengadakan pertemuan stakeholders AMPL (air minum dan penyehatan lingkungan), sekaligus acara buka puasa bersama di Hote Sari Pan Pacific Jakarta. Pada pertemuan itu, seorang Guru Besar di FKM UI, menginformasikan bahwa issue tentang "hubungan air isi ulang dengan peningkatan angka prevalensi diare" menjadi minat penelitian dan penulisan skripsi mahasiswa FKM. Pertanyaannya... apakah air isi ulang (yang katanya dioleh dengan teknologi tinggi) bisa menyebabkan orang sakit diare..???? Bila ya, dimana "junction" kesalahannya..? Bila tidak, so what..?
Ur comment pls
+dhs+

Salam Sejahtera mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Tjatur Prasetijono mengatakan...

Mengenai depot refill air minum, yang salah bukan teknologinya atau alatnya, namun ada beberapa kemungkinan penyebab:
1)Sumber air minum yang diolah
2)kualitas alat yang digunakan (misal:membran RO/UF atau filternya kualitas hasil olahan dan kekuatan/umur alat tergantung dari harga dan bonafiditas produsennya)
3)umur dari alat (contohnya: membran yang umumnya diganti max.2tahun tidak akan diganti kalau tidak ada keluhan pelanggan
4)perawatan alat (contohnya: membran harus dilakukan cleaning bila tekanan proses sudah mencapai nilai tertentu)
5)analisa kualitas air baku dan air hasil olahan secara rutin tidak pernah dilakukan karena biaya juga tinggi, sehingga tidak akan diketahui apakah benar air hasil olahannya benar telah memenuhi syarat kesehatan.
6)kesalahan operasional: hal ini berkaitan dengan manusianya (baik kemampuan maupun moralnya)

NAMUN: Apakah air bersih yang biasa digunakan untuk memasak sehari-hari baik itu dari air sumur ataupun air PAM juga benar sudah memenuhi kualitas air bersih sebelum direbus??? (atau memenuhi kualitas air minum setelah direbus???)

Demikian sharing dari saya.
Salam
Tjatur Prasetijono '90

waterman99 mengatakan...

Saya ingin berbagi pengalaman mengenai pengolahan air minum dan problem di lapangan di
http://www.airminumisiulang.com/
Dapatkan juga berbagai Tips seputar usaha air minum isi ulang.
Terima Kasih