Minggu, 09 November 2008

Plastik Ramah Lingkungan dari Kelapa Sawit

Pengepul sampah plastik di Jalan Citarum, Cideng, Jakarta Pusat, Harto, memilah botol plastik yang dibelinya seharga Rp 1.000 per kilogram dari pemulung, Rabu (27/2). Sampah plastik tersebut kemudian dijual ke pabrik pengolah plastik untuk didaur ulang. Mereka secara tidak langsung ikut membantu pemerintah dalam menangani masalah sampah.

 

Kompas, Jumat, 22 Agustus 2008 | 20:33 WIB

MEDAN, JUMAT - Peneliti Universitas Sumatera Utara, Basuki Wirjosentono, mengenalkan plastik ramah berbahan hasil samping minyak sawit mentah. Plastik yang selama ini beredar di masyarkat masih memakai zat kimia yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia. Hasil samping sawit terbukti aman dari gangguan itu.

"Hasil samping ini sebagai pelunak plastik. Bahannya banyak terdapat di sekitar kita. Pemanfaatan hasil samping minyak sawit ini sekaligus bisa meningkatkan nilai jualnya," kata Basuki Wirjosentono di Kampus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Jumat (22/8).

Gliserol menjadi bahan pengganti dioktil ftalat atau dalam istilah kimia dikenal dengan DOP. Bahan ini bagus bereaksi dan murah harganya. Sayangnnya, zat kimia ini bersifat racun penyebab kanker pada manusia. DOP dan glicerol sama-sama bisa menjadi bahan pelunak plastik. Namun gliserol lebih aman bagi kesehatan dan tidak mengandung racun.   

Dalam penelitiannya, Basuki mengubah gliserol menjadi poli gliserol agar zat ini menjadi lebih kental. Selanjutnya dia mengubahnya lagi menjadi poligliserol asetat agar senyawa ini bisa bercampur baik dengan plastik. Dia mulai melakukan penelitian ini lima tahun lalu.

Sementara ini hasil penelitiannya belum dimanfaatkan secara komersial. Di sejumlah forum internasional, Basuki sudah mengenalkannya. Produksi alat pelunak plastik ini masih dalam skala laboratorium dalam jumlah liter.

Sabtu, 08 November 2008

Sel Surya Buatan Dalam Negeri Justru Dipesan Luar Negeri

 
 Potensi energi terbarukan di Indonesia belum banyak dimanfaatkan untuk menjawab krisis minyak bumi (bahan bakar fosil). Salah satu potensi adalah sel surya dari tenaga matahari sebagai pembangkit listrik, seperti ditemui di Pantai Parang Rucuk, Tanjungsari, Gunung Kidul, DIY, Rabu (7/5). Sepasang panel menghasilkan 80 watt. Panel surya ini dipasang sejak 2005.
Jumat, 10 Oktober 2008 | 17:01 WIB
JAKARTA, JUMAT - Sel surya dari industri dalam negeri yang sedang dirancang Wilson Walery Wenas dari Institut Teknologi Bandung, dengan investor Bakrie Power dan investor dari Amerika Serikat, justru sudah dipesan pembeli dari luar negeri.
Pemesanan sebesar 10 megawatt (MW) datang dari Spanyol dan harus bisa dipenuhi Mei 2009. Sementara itu, pemesanan dari konsumen dalam negeri sama sekali belum ada, padahal kapasitas produksinya 90 MW per tahun.
Wilson ketika dihubungi Kompas dari Jakarta, Kamis (9/10), mengatakan, lokasi industri sel surya yang masih tahap persiapan itu berada di Cikarang, Jawa Barat, dengan nama perusahaan Nano-PV. Jenis sel surya yang akan diproduksi berupa sel surya generasi kedua, yaitu sel surya thin film (lapisan tipis) dari hasil temuan Wilson yang kini sudah dipatenkan.
"Teknologi yang saya temukan itu nanti akan digabungkan dengan teknologi dari Amerika Serikat," kata Wilson.
Termurah di dunia
Harga komersial sel surya yang diharapkan, menurut Wilson, bisa mencapai 0,8-0,9 dollar AS per watt. "Harga demikian akan menjadikan sel surya Nano-PV menjadi yang termurah di dunia," kata Wilson.
Beberapa waktu sebelumnya, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan, industri sel surya memiliki produk akhir yang ramah lingkungan. Akan tetapi, pada proses pembuatannya harus dicermati karena tergolong tidak ramah lingkungan.
Menanggapi persoalan ini, Wilson mengatakan, pembuatan sel surya pada generasi pertama diakui memang tidak ramah lingkungan. Penggunaan logam berat merkuri masih dominan.
"Namun, tidak demikian halnya untuk produksi sel surya generasi kedua yang tidak mengandalkan penggunaan logam berat merkuri," kata Wilson menjelaskan.
Menurut Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi, kebutuhan dalam negeri terhadap sel surya sebetulnya cukup tinggi. Pada tahun 2025, pemerintah menargetkan pemanfaatan energi yang berasal dari sel surya mencapai 800 megawatt. Padahal, kapasitas terpasang saat ini baru mencapai 10 megawatt.
Dengan target yang cukup ambisius tersebut, menurut Arya, semestinya setiap tahun pemerintah menargetkan penginstalan sel surya dengan kapasitas 40 megawatt. Namun, target ini belum tercapai. (NAW)
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/10/17011478/sel.surya.buatan.dalam.negeri.justru.dipesan.luar.negeri#

Biodiesel dari Jelantah

Kamis, 27 November 2008 | 19:17 WIB
JAKARTA, JUMAT-  Jangan buang sembarangan jelantah alias minyak goreng bekas di rumah Anda. Selain bisa mencemari lingkungan, jelantah masih bisa bernilai ekonomis jika diolah menjadi biodiesel.
Menurut Kepala Laboratorium Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi (BRSDT) Ir. Imam Paryanto, bahkan minyak jelantah yang sudah bercampur bahan-bahan lain seperti tanah maupun air sekali pun masih bisa diolah.
"Kami juga mempunyai filter yang siap menyaring kotoran, dari yang besar sampai yang terkecil," kata Imam di sela-sela acara sosialisasi pemanfaatan minyak goreng bekas, Kamis (27/11). Acara sosialisasi yang diselenggarakan di kantor BRSDT di kawasan Serpong, Tangerang.
Dijelaskan Imam, bila dibuang sembarangan, minyak goreng bekas dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan, karena akan mengakibatkan ikan dan habitat air lainnya mati. Sedangkan kalau jelantah diknsumsi manusia bisa berisiko kanker maupun stroke.
Pada tahap riset, BRSDT melibatkan siswa-siswa SD di Serpong, Cisauk, Pamulang, Setu, dan Pondok Aren. Para siswa itu diminta mengumpulkan minyak goreng bekasi di rumahnya. Hasilnya, selama bulan April sampai November ini terkumpul 2.075 liter jelantah.
BRSDT membeli jelantah itu dengan harga Rp 3.000 per liter jika petugas BRSDT harus mengambil ke sekolah. Sedangkan jika jelantah diantar langsung ke BRSDT, harganya Rp 4.000 per liter.
Kepada para peserta sosialisasi, Imam berharap mereka bisa menerapkan teknologi pengolahan jelantah menjadi biodiesel yang teknologinya sangat sederhana itu. Atau, mereka bisa mengumpulkan jelantah dari masyarakat untuk dijual kepada BRSDT sebagai bahan baku.
Teknologi sederhana
Selanjutnya, BRSDT mengolah jelantah itu menjadi biodiesel dengan mesin yang sangat sederhana.
Sebelum diolah, jelantah dimasukkan dulu ke dalam filter atau tempat penyaringan. "Ada dua filter yang kami gunakan. Satu berupa filter biasa, satu lagi filter press yang mampu menyaring kotoran berukuran kecil sekali," ujar Imam.
Setelah melewati proses penyaringan, minyak lantas dipompa menuju tangki penyimpanan. Baru setelah mengendap beberapa saat, minyak dialirkan menuju reaktor untuk direaksikan dengan metanol dan katalis (NaOH). "Waktu pencampuran kurang lebih 30 menit," lanjutnya.
Sebelum menjadi biodiesel, bahan dari minyak goreng bekas dicuci dengan air panas bersuhu minimal 70 derajat celcius sebanyak dua kali. "Hal itu untuk melarutkan sisa metanol yang tidak bereaksi dalam proses pencampuran. Setelah itu, biodiesel dikeringkan dalam vacum selama setengah jam, sebelum dapat digunakan," jelas Imam.
Selesai pengeringan, baru dapat dihasilkan produk biodesel. Dengan komposisi 90 persen biodiesel, 10 persen sisanya berupa gliserol. Dimana gliserol diolah lagi oleh BRDST menjadi sabun cair. 


C11-08
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/27/1917405/biodiesel.dari.jelantah